Showing posts with label An-Nashoih. Show all posts
Showing posts with label An-Nashoih. Show all posts

Tuesday, September 27, 2016

(An-Nashaih 32 ) Keinginan Memenuhi Kewajiban Ketika Mengeluarkan Harta Serta Sebagai Tanda Syukur Kepada Allah SWT.

(An-Nashaih 32 ) Keinginan Memenuhi Kewajiban Ketika Mengeluarkan Harta Serta Sebagai Tanda Syukur Kepada Allah SWT.

Terjemah Kitab
“AN-NASHA’IH”


NASIHAT-NASIHAT “SANG SUFI”
Karya:
IMAM ABU ABDILLAH AL-HARITS BIN AS’AD 
“AL-MUHASIBI”
--000--


NASIHAT KE - 32
Keinginan Memenuhi Kewajiban Ketika Mengeluarkan Harta Serta Sebagai Tanda Syukur Kepada Allah SWT.

Saudaraku-saudaraku! Apabila orang lain mengeluarkan harta yang halal di jalan kebaikan dengan dugaan bahwa hal demikian akan melipatgandakan pahala, ingat, berkehendaklah engkau dalam harta yang keu keluarkan itu untuk memenuhi kewajiban terhadap Allah dan terhadap sesama makhluk. Juga, keluarkanlah hartamu sebagai tanda syukur terhadap nikmat, tanda takut dari sikap kikir terhadap Allah SWT, serta tanda khawatir terhadap pertanyaan ketika terjadi hisab’. Oleh karena itu, keluarkanlah harta kalian demi untuk membebaskan diri, karena, telah sampai kepada kami bahwa Allah SWT telah menurunakn wahyu kepada salah seorang Nabi-Nya : “Sesungguhnya perumpaam sedekah itu seperti seseorang yang membunuh orang lain, maka akeluarga korban menuntut untuk membunuhnya. Si pelaku berkata : “Aku akan menebus diriku, hingga ia pun membayar tebusannya sedikit demi sedikit sampai ia mampu membebaskan dirinya dari pembunuhan.”
Wahai kaum yang menginginkan keselamatan! Demi Allah, demikian dengan kalian, dan siapa orang telah membunuh dirinya dengan dosa-dosa. Oleh karenanya, keluarkanlah harta yang halal demi untuk menebus diri kalian sebelum hal itu tidak diterima dari kalian. Aku berpendapat, siapa yang mengeluarkan harta dengan keyakinannya untuk mengharapkan pahala kebaikannya lebih besar daripada rasa takutnya, maka ia justru tidak memperoleh pahala apa-apa. Sebab, barangkali saja hanya sedikit sekali kekuatannya terhadap pertanyaan-pertanyaan dari Allah yang ditujukan kepadanya tentang keterlibatannya dalam harta yang halal berdasarkan prasangkanya. Padahal hal demikian adalah tipu daya serta kebodohan yang besar. Maka dari itu, jadilah kalian di antara orang-orang yang memiliki pandangan.
Saudaraku! Sebagaimana engkau berharap agar kebaikanmu diterima, demikian pula hendaknya engkau khawatir akan tidak diterimanya kebaikanmu itu. Sesungguhnya Allah SWT berfirman :Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa (Al MA’idah, 27) Di antara tokoh berilmu berkata : “Persetan dengan dunia, yang halal darinya bakal di hisab sedangkan yang haram darinya mendapatkan sangsi.” Rasulullah saw. Bersabda : “Barang siapa yang diseleldiki secara mendalam di kala hisab’ pasti ia akan disiksa.”
Sesungguhnya Allah SWT memuji orang-orang yang takut : Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka (Al Mu’minun, 60) Ahli tafsir berkata : “Yaitu orang-orang yang berpuasa, orang-orang shalat, orang-orang yang bersedekah, dan orang-orang yang takut bakal tidak diterima hal tadi dari meraka.” Saudara-saudara, contohlah orang-orang bertakwa tersebut dalam kekhawatiran terhadap amal perbuatanmu, Sesungguhnya diantara sahabat pilihan dahulu, ada yang berangan-angan supaya diterima darinya satu kebajikan saja, karena kekhawatirannya bila tidak akan diterima darinya, karena Allah berkata : “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa (Al MA’idah, 27).
Saudara-saudara! Bersyukurlah kepada Allah SWT karena Dia telah mengilhamimu untuk mengeluarkan harta dan telah menjagamu dari kekikiran. Minta maaflah dari usahamu yang menurut perkiraanmu halal. Alangkah bahagianya orang-orang yang diringankan bebannya sehingga lebih cepat berlalu, dan alangkah sengsaranya orang-orang yang berat bebannya sehingga tertahan. Demikianlah perbedaan keutamaan antara dua orang. Yang satu mencari pahala dalam pengeluarannya melalui harta yang halal sesuai dengan dugaannya, namun ia melupakan pertanyaan yang bakal diajukan Allah kepadanya. Padahal, bila Allah SWT memberlakukan hisab terhadapnya, tentu akan menyulitkan dirinya. Sementara yang lain mengeluarkan harta sepeti itu juga, hanya saja ia dibebani oleh ketakutan terhadap dialog dengan Tuhan ketika hisab, sehingga cita-citanya selalu ingin lepas dari kewajiban yang harus dipenuhinya pada harta yang halal, seraya berharap maaf dan ampunan dari Allah SWT, karena memang Allah telah memberikan beberapa kewajiban pada harta yang halal. Adapun harta yang haram, maka tidak ada jalan baginya selain lari kepada Yang Maha Pengasih, serta melepaskan diri dari semuanya dan membiarkannya untuk pemburunya.
Saudara-saudaraku! Renungkanlah apa yang telah engkau dengar. Ketahuilah bahwa amal perbuatan hamba di sisi Tuhan bertingkat-tingkat. Oleh sebab itu, nilai dan kedudukan mereka di sisi-Nya lebih tinggi yang satu daripada yang lain, sesuai dengan pemahaman mereka tentang Allah Mereka mengetahui bagaimana berbuat untuk-Nya. Sebab kebanyakan orang berbuat kebaikan hanya untuk mengharapkan pahala, dan kalau tidak ada pahalanya tentu mereka merasa berat untuk melaksanakan kebaikan tersebut. Wahai kaum, perbanyaklah amalan sunnah untuk menyempurnakan yang wajib, sebab telah sampai kepada kami bahwa Allah SWT berfirman : “Aku tidak memperhatikan hak seorang hamba sebelum hamba tersebut memperhatikan hak-Ku. Juga, dari salah seorang tokoh ilmu pengetahuan disebutkan : Sesungguhnya tidak akan sampai kepada hati seorang hamba ruh Allah, sedang dari sisi hamba tersebut Allah mempunyai hak yang belum dipenuhi olehnya.” Ingat, utamakanlah niat dalam memenuhi seluruh hak Allah dalam segala urusan, janganlah engkau menyibukkan hati dengan hakmu pada-Nya, dan contohlah orang-orang yang disebutkan oleh Rasulullah saw. Melalui sabdanya, berikut : Ingatlah, sesungguhnya oang-orang yang berilmu adalah orang yang mengerti tentang Allah dan fuqaha’ adalah pilihan Allah di antara makhluk-Nya.” Pahamilah penanaman moral oleh Rasulullah saw. Tersebut. Bilamana engkau telah menyempurnakan kewajiban dengan amalan sunnah dan mencoba menghilangkan kejahatan dengan amalan sunnah dan mencoba menghilangkan kejahatan dengan kebaikan, kemudian engkau mempunyai amalan yang melebihi pemenuhan terhadap hak-hak Allah, sesungghnya yang demikian merupakan simpanan untukmu di sisi Tuhan SWT dan sebagai penyempurna terhadap apa-apa yang ada di sisi-Nya jika dalam memenuhi hak-hak-Nya engkau masih memiliki kekurangan. Alangkah celakanya orang yang lalai pada hari ditegakkan hisab’ ! Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita semua. Amin ya Rabbal ‘alamin.

(An-Nashaih 31 ) Bukan Termasuk Ihsan Mengeluaarkan Harta Yang Berasal Dari Usaha atau Barang Yang Syubhat

(An-Nashaih 31 ) Bukan Termasuk Ihsan Mengeluaarkan Harta Yang Berasal Dari Usaha atau Barang Yang Syubhat



Terjemah Kitab
“AN-NASHA’IH”


NASIHAT-NASIHAT “SANG SUFI”
Karya:
IMAM ABU ABDILLAH AL-HARITS BIN AS’AD 
“AL-MUHASIBI”
--000--

NASIHAT KE - 31
Bukan Termasuk Ihsan Mengeluaarkan Harta Yang Berasal Dari Usaha atau Barang Yang Syubhat

Saudaraku-saudaraku! Apabila orang lain mengeluarkan harta yang berasal dari usaha dan barang yang Syubhat di jalan kebaikan sebagai bentuk kresit yang disalurkan kepada Allah SWT, ingat, dalam pengeluaran harta yang syubhat itu hendaklah engkau menginginkan supaya menjadi bersih dari campur baur dalam usahamu sehingga diharapkan harta yang tersisa menjadi sedikit lebih baik. Dan takutlah engkau terhadap akibatnya sebelum datangnya hari perhitungan.
Telah sampai kepada kami bahwa seorang ahli ilmu berkata : Pada hari kiamat kelak, Allah akan membangkitkan dari kuburannya sekelompok orang yang menebar bau lebih busuk daripada bangkai. Mereka itulah orang-orang yang bersenang-senang di dunia dengan kelebihan harta yang berasal dari syubhat. Tokoh lain berkata : “Iblis adalah makhluk yang paling mengenali seluk beluk harta yang halal dan yang haram, oleh karena itu ia mampu menghiasi yang haram untuk para pencarinya, dan menyelipkan untuk pencari yang halal hal-hal yang syubhat. Rarusulullah saw. Bersabda : Barang siapa yang memelihara barang syubhat, hampir saja ia jatuh kepada yang haram.”
Kadang kala sebagian orang mengira bahwa bila sudah mengeluarkan harta dari hal hal yang syubhat di jalan Allah, mereka beranggapan bahwa dirinya telah berlaku benar dalam pengeluaran seraya melupakan tindakan tutup mata mereka ketika mendapatkan harta yang campur aduk tersebut. Ingat, janganlah kamu berlagak tidak tahu! Mintalah maaf kepada Allah dari timbul tenggelamnya kalian di dalam danau syubhat. Kemudian jadilah engkau takut kalau-kalau Allah tidak menerima apa yang telah engkau keluarkan itu lantaran terdapat unsur campur baur di dalamnya, sebab AllahSWT, adaah baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik.
Seorang sahabt berkata : “Apabila usaha mencari nafkah itu baik, akan bersihlah amal perbuatan, kelak akan dikembalikan sehingga dapat diketahui.” Lalu seorang berilmu berkata : ‘Jika saja engkau meninggalkan satu dirham karena takut tidak termasuk yang halal, itu lebih baik daripada bersedekah dengan seribu dinar dari hal yang syubhat, yang tidak jelas apakah termasuk halal atau haram.

Tat kala Allah SWT menuntut kebaikan darimu, maka saat itu merupakan saat-saat yang paling menegangkan bagimu, dan pada saat itu pula engkau mengetahui bahwa meninggalkan kelebihan harta justru lebih selamat untuk dirimu daripada mengeluarkan harta yang gbercampur dan syubhat. Sebentar lagi akan tiba waktu menghadap, wahai orang-orang yang ringan bebannya, dan duka cita yang panjang bagi orang-orang yang gemar bermegah-megahan. Oleh karena itu, bersyukurlah engkau kepada Allah atas ilham-Nya kepadamu untuk mau mengeluarkan harta dan memelihara diri dari kekikiran. Karena kalau saja bukan karena Dia, tentu masalahnya akan lebih gawat lagi dan bencana yang bakal mengancam pun pasti lebih dahsyat lagi, dan memang hak-Nya lah segala karunia. Inilah perbedaan keutamaan di anara dua orang. Salah satunya menjadi gelisah lantaran kesyubhatan yang di dapatkannya, dan berupaya keras untuk menghindarinya seraya merasa takut kalau tidak akan diterima darinya. Keinginannya ialah terbebas dari kesyubhatan yang bercampur dengan kekejian dan keburukan dalam berusaha. Sebab, siapa tahu bahwa dirinya termasuk di antara orang-orang yang dibangkitkan dan kuburnya dalam keadaan mengeluarkan bau lebih busuk daripada bangkai, sedangkan mereka tidak menyadari. Semoga Allah melindungi kita dari bencana itu.

(An-Nashaih 30) Bersesuci Dari Setiap Yang Haram Sebelum Terlanjur Melangkah ke Arahnya

(An-Nashaih 30) Bersesuci Dari Setiap Yang Haram Sebelum Terlanjur Melangkah ke Arahnya




Terjemah Kitab
“AN-NASHA’IH”


NASIHAT-NASIHAT “SANG SUFI”
Karya:
IMAM ABU ABDILLAH AL-HARITS BIN AS’AD 
“AL-MUHASIBI”
--000--

NASIHAT KE - 30
Bersesuci Dari Setiap Yang Haram Sebelum Terlanjur Melangkah ke Arahnya

Saudaraku-saudaraku! Apabila orang lain mengeluarkan harta benda mereka di jalan Allah dan di jalan kebaikan serta menghabiskannya dalam menuntut ilmu pengetahuan, pahamilah! Bagaimana engkau bisa mengeluarkan harta itu, padahal di antara harta tersebut ada yang halal, baik, lagi nyata, juga ada yang haram lagi nyata, sedang di antara keduanya adalah syubhat, dan hanya Allah-lah yang lebih mengetahui tentang keadaan kita. Adapun terhadap harta yang haram, bersegaralah engkau untuk melepaskan diri dari antrian orang-orang yang berlomba-lomba mendapatkannya dan larilah kepada Allah dengan segenap kemampuan sebagaimana larinya seorang pecundang dari kobaran api, dan memang itu yang dituntut. Rasulullah saw. Bersabda : “Siapa yang mencari dan mendapatkan harta haram, tidak diterima oleh Allah darinya sedekahnya, usahanya memerdekakan budak, juga tidak diterima hajinya, umrahnya dan peperangannya; sebaliknya, akan ditetapkan untuknya sebesar nilai harta itu sebagai dosa, sedang yang tersisa sampai ia meninggal adalah menjadi bekal baginya untuk menuju neraka.” Semoga Allah memberikan perlindungan kepada kita sekalian dari hal demikian.
Wahai sekalian manusia, bersihkan dirimu dari kotoran hartamu sebelum tiba ajalmu, karena orang yang tetap bergelut dengan harta haram sangat rentan terhadap kehancuran dan kemalangan, sedang ia tidak menyadari. Kadan-kadang orang-orang bodoh itu mengira bahwa bila mereka telah mengeluarkan harta haram itu di jalan Allah, berarti mereka telah berlaku benar dalam pengeluaran, dan merekapun melupakan asal usul hartanya kemudian setelah itu akan melanggar lagi perintah Allah. Celakalah mereka, belum sapaikah kepada mereka bahwa Rasulullah saw. Bersabda : Seandainya pemilik harta haram mati syahid di jalan Allah sebanyak tujuh puluh kali, tidak ada baginya syahadah kecuali dengan tobat, padahal tobat di atas barang haram di tolak.” Wahai kaum, jangan engkau bodoh seperti kebodohan mereka, mintalah maaf dari kejahatanmu terutama dari keberanianmu terhadap Allah dalam menerima sesuatu yang haram. Takutlah engkau terhadap Allah dalam menerima sesuatu yang haram. Takutlah engkau terhadap akibatnya, dan pujilah Allah bila Dia mengilhamkan kepadamu untuk lari darinya dan menyelamatkanmu sebelum terlanjur mengambilnya, sebab, seandainya bukan karena Allah, tentu akibatnya akan sangat buruk. Itulah perbedaan keutamaan antara dua orang, yang satu menginginkan pahala dari pengeluaran harta haramnya, padahal justru ia bakal mendapatkan balasan (sangsi), Dan yang lain berusaha mensucikan diri dari semua jenis yang haram, dan ia pn merasa dicekam oleh ketakutan. Ingat, bersegeralah untuk bersuci dari seluruh yang haram sebelum tiba saatnya menghadap Allah SWT.

Klik disini untuk kembali ke awal  (Daftar isi)

Sunday, February 21, 2016

(An Nashaih 29  Membaca Al-Qur’an bukan karena Fahala

(An Nashaih 29 Membaca Al-Qur’an bukan karena Fahala

Terjemah Kitab
“AN-NASHA’IH”


NASIHAT-NASIHAT “SANG SUFI”
Karya:
IMAM ABU ABDILLAH AL-HARITS BIN AS’AD 
“AL-MUHASIBI”
--000--


NASIHAT KE - 29
Membaca Al-Qur’an bukan karena Fahala

Saudaraku! Apabila orang lain membaca Kitab Allah karena keutamaan pahalanya, ingat, tatkala membacanya, hendaklah engkau bermaksud merenungi dan menghayati perumpamaan-perumpamaan, keajaiban-keajaibannya, janjinya, ancamannya, perintahnya, larangannya, halalnya, haramnya, serta berbuat dalam batasan-batasannya dan fardhu-fardhunya. Sebab, hal demikian lebih jelas pengaruhnya dalam meraih keridhaan Allah SWT. Diceritakan tentang Firman-Nya yang berbunyi : Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab Kitab kepadanya, (kemudian) mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, (maka) mereka itulah (yang) beriman kepadanya. Dan siapa saja yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.] (Al Baqarah : 121) Ahli tafsir berkata : “ Yaitu mereka yag mengamalkan isinya, dan yang beriman kepadanya.”
Di antara para sahabat ada yang berkata : “ Setiap kali ayat dari Kitabullah datang menghadap, ia menanyakan kepada ku tentang yang wajib-wajibnya, bersaksi terhadapku tentang perintahnya bahwa aku belum memenuhinya, juga bersaksi terhadapku tentang perintahnya bahwa aku belum memeuhinya, juga bersaksi terhadapku tentang larangannya bahwa aku tidak mengindahkannya, dan ku berlindung kepada Allah dari hati yang tidak khusyuk.”
Saudara-saudara, sesungguhnya telah sampai pula kepadaku beberapa hadis Rasul saw. Dan bila memang benar haids-hadis itu bersumber dari beliau saw, tentu hal itu merupakan ancaman bagi keberadaan orang-orang seperti kita. Rasulullah saw. Bersabda : “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, Malaikat Zabaniyah lebih cepat menghampiri orang-orang fasik, di antara penghapal Alquran daripada penyembah berhala, sehingga mereka dilemparkan bersama-sama ke dalam neraka jahanam. Dan mereka pun berteriak-teriak kepada Allah : “Ya Tuhan kami, atas dasar apa kami dilemparkan ke dalam neraka bersama orang-orang yang dulunya memakan rizki Mu dan menyembah selain Mu, padahal kami telah membaca Kitab-Mu di dunia? Allah SWT, berkata : “Benarlah apa-apa yang dikatakan oleh hamba-hamba Ku yang jahat itu, tetapi kalian tidak menghalalkan yang halal, tidak mengharamkan yang haram, tidak menghayati keajaibannya, dan tidak mengamalkan hukumnya, karena orang-orang yang mengetahui tidaklah sama dengan orang yang tidak mengetahui, maka kini rasakanlah siksaan lantaran apa-apa yang dulu kamu kerjakan.”
Rasulullah saw. Juga mengatakan : “Ketahuilah! Ada kalanya seseorang membolak-balik mushhaf siang dan malam hingga menaruhnya kembali, sedang ayat-ayatnya melaknatinya. Tidak melewati satu ayat, melainkan ayat itu mengutuknya, juga tidak melalui satu huruf kecuali huruf itu melaknatnya.”Ada yang bertanya : “Mengapa bisa demikian, wahai Rasul? Rasul menjawab. “Ia melewati ayat ini : Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim (Hud.18), sedangkan dirinya termasuk zalim sehingga ayat itu mengatakan, ‘Dusta, engkau sendiri adalah zalim sehingga auay itu mengatakan “ Dusta” engkau sendiri adalah zalim. Lalu ketika ia melewati ayat yang lain, yang terdapat perintah untuk menjauhi khamar dan judi, maka ayat itu pun berkata : “Ia berdusta lagi. Semoga Allah mengutuknya, tidaklah ia menjauhi khamar dan judi.’ Juga ketika ia melewati ayat ini : :Mengerjakan haji adalah kewajiban menusia terhadap Allah, yaitu (bagi) bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah (Alu Imran, 97), maka ayat ini pun mengatakan, ‘Ia berdusta lagi, semoga Allah mengutuknya, sebenarnya ia telah sanggup untuk melaksanakan haji tapi ia tidak melakukannya.’ Demikian, sehingga tidak satupun ayat yang ia lalui di mana tingkahnya bertentangan dengan isi ayat tersebut melainkan ayat-ayat itu akan mengutuknya.”
Seorang tokoh berkata : “Siapa yang takut kepada Allah, sesungguhnya ia telah mengingat-Nya, sekalipun sedikit puasa, shalt dan bacaan Alqurannya; sebaliknya, siapa yang durhaka kepada Allah sesungguhnya ia tidak mengingat-Nya, sekalipun banyak puasa, shalat dan bacaan Alqurannya.”
Wahai kaum pencari kebenran! Apa-apa yang telah engkau kerjakan di antara hukum-hukum Alquran, sesungguhnya engkau telah mencapai raihan pahala yang banyak serta kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT. Namun, jika kau abaikan hukum-hukum-Nya dan engkau membacanya hanya demi pahala, aku khawatir akan luput darimu pahala itu lantaran hukum-hukum yang terabaikan itu. Betapa banyak orang yang membaca Alquran sedangkan Alquran itu melepas tanggung jawab terhadapnya esok, sehingga ia pun kelak akan terjerumus bersama-sama orang lain sesudah ia membacanya. Semoga Allah melindungi kita sekalian dari hal demikian. Inilah perbedaan keutamaan antara dua orang yang satu membaca Kitab Allah karena keunggulan pahalanya, padadahal barangkali ia mengabaikan sebagian besar hukum-hukumnya, sehingga ia pun sama seperti orang yang tidak membacanya. Sedang yang lain mengamalkan hukum-hukum Alquran, sekalipun ia seorang non Arab, maka ia termasuk orang membaca Alquran secara konprehensif. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengamalkan hukum-hukum Al qur’an. Amin ya Rabbal–Alamin

 Klik disini untuk kembali ke awal  (Daftar isi).T6
(An-Nashaih 28) Menghadirkan Hati bersama Lidah

(An-Nashaih 28) Menghadirkan Hati bersama Lidah

Terjemah Kitab
“AN-NASHA’IH”


NASIHAT-NASIHAT “SANG SUFI”
Karya:
IMAM ABU ABDILLAH AL-HARITS BIN AS’AD 
“AL-MUHASIBI”
--000--

NASIHAT KE - 28
Menghadirkan Hati bersama Lidah

Sahabatku! Apabila orang lain berdoa kepada Tuhan mereka hanya dengan lidah seraya menengadahkan tangan sedang hati mereka lalai, ingat, hadirkanlah dirimu bersama lidah, karena cara itu lebih jelas pengaruhnya dalam menggapai ridha Alalh. Di antara para sahabat ada yang berkata : “Sesungguhnya Allah SWT tidak memperkenankan doa seorang hamba yang dilaukan dengan hati yang lalai.” Yang lain berkata : Sesungguhnya Allah tidak mendengarkan doa dari orang yang lalai.”Sementara seorang lagi berkata : Allah SWT tidak mendengar dari orang yang berdoa, kecuali orang yang berdoa dengan mulut dan hati. “Wahai kaum, mendekatlah kepada Allah; janganlah kalian menghalangi dirimu dari terkabulnya doa dengan kelalaian hati bersama lidah, sesungguhnya Yang Maha Mulia telah menjanjikan akan mengabulkan doa orang yang dalam kesulitan bila ia berdoa kepada-Nya. Inilah perbedaan keutamaan di antara dua oran, yang satu beroda dengan lidahnya sementara hatinya lalai dari Allah dan lengah. Sedangkan yang lain melakukannya dengan penuh khidmat, dengan hati dan lidahnya. Semoga Allah menjadikan kita sekalian di antara orang-orang yang takut. Aamiin.

(An-Nashaih 27) Merahasiakan Do’a

(An-Nashaih 27) Merahasiakan Do’a

Terjemah Kitab
“AN-NASHA’IH”


NASIHAT-NASIHAT “SANG SUFI”
Karya:
IMAM ABU ABDILLAH AL-HARITS BIN AS’AD 
“AL-MUHASIBI”
--000--


NASIHAT KE - 27
Merahasiakan Do’a

Saudaraku! Apabila orang lain terang-terangan dalam berdoa, rahasiakanlah doamu di antara dirimu dan Tuhan-mu, karena hal itu lebih jelas pengaruhnya dan lebih cocok dengan kecintaan Allah SWT, serta dapat lebih banyak menjaring pahala. Telah sampai kepada kami bahwa do’a yang dilakukan secara rahasia melebihi do’a yang dilakukan secara terang-terangan sebanyak tujuh puluh kali lipat. Di antara para tokoh berkata : “Orang-orang Islam dahulu sungguh-sungguh dalam berdoa, tetapi tidak terdengar dari mereka bersuara. Dan jika ada suara, itupun hanya bisikan antara mereka dan Tuhan mereka.” Hal demikian karena Allah SWT telah menceritakan tentang keadaan seorang hamba salih yang diridhai-Nya ucapannya. Allah SWT berfirman : “Yaitu tatkala  (Zakaria) menyeru Tuhannya dengan suara yang lembut. (Maryam, 3). Itulah perbedaan keutamaan antara dua orang, yang satu terang-terangan dalam berdoa, padahal cara ini sangat rentan terhadap fitnah terutama bila dilakukan di tengah-tengah orang banyak, dan ia pun ridha kepda pahala yang sedikit. Sedang yang lain, berdoa secara sembunyi-sembunyi dan khidmat. Sebab doa orang-orang yang khusuk serta penuh kerendahan hati ialah doa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan khidmat. Semoga Allah menjadikan kita sekalian di antara orang-orang yang takut. Aamiin.

Friday, May 29, 2015

(An-Nashaih 25-26) Memperbanyak Kebajikan untuk Menghapus Keburukan

(An-Nashaih 25-26) Memperbanyak Kebajikan untuk Menghapus Keburukan



Terjemah Kitab
“AN-NASHA’IH”


NASIHAT-NASIHAT “SANG SUFI”
Karya:
IMAM ABU ABDILLAH AL-HARITS BIN AS’AD 
“AL-MUHASIBI”
--000--
NASIHAT KE – 25
Memperbanyak Kebajikan untuk Menghapus Keburukan

Saudara-saudaraku! Apabila semua orang beramal untuk menggapai status yang lebih tinggi, janganlah engkau bodoh terhadap urusanmu dan utamakanlah niat dalam memperbanyak kebajikan untuk emnghapuskan kejahatan sebagai rasa takut terhadap akibatnya. Seorang tokoh ilmu pengetahuan berkata : “Orang yang paling berakal di antara manusia ialah yang takut terhadap dosa-dosanya meskipun sedikit.” Salah seorang sahabat berkata : “Engkau memohon surga, amat jauhlah itu!Ia mengatakan ini karena amat khawatir terhadap akibat dosa-dosanya. Sahabat yang lain berkata :“Aku lebih suka sampai keluar mataku, bila Allah tidak mengampuniku walau hanya satu dosa saja.”
Itulah perbedaan keutamaan antara dua orang, yang satu merasa takut dan sungguh-sungguh untuk mendapatkan ridha Allah, sehingga keinginannya hanyalah untuk keselamatan. Sedangkan yang lain menginginkan martabat dan keududukan. Sungguh ia telah mengabaikan kewajiban dan berhak mendapatkan sangsi. Ingat, jadikanlah niat dalam mengerjakan kebaikan adalah untuk menghapuskan kesalahan-kesalahan, karena hal demikian lebih utama dan lebih mulia. Semoga Allah memberikan kepada kita sekalian amal perbuatan yang bermanfaat.

NASIHAT KE - 26
Bersikap Wara’ terhadap Larangan-larangan Allah SWT.

Saudaraku! Apabila orang lain berbuat kebajikan, namun dalam hal ini mereka timbul tenggelam dalam perbuatan dosa dan sering mencapuradukan antara amal salih dengan perbuatan yang buruk, seraya berangan-angan bahwa kejahatan-kejahatan tersebut akan terhapus dengan kebaikan, ingat, hati-hatilah terhadap Allah SWT, Ikhwanku, bersucilah dari kesalahan dengan melakukan Inabah (kembali dari dosa-dosa menuju taat) serta menyessali diri karena telah melakukannya. Sebab, inabah itu lebih jelas pengaruhnya dalam menggapai ridha Allah. Lebih suci untukmu, dan lebih manjur dalam menghapuskan dosa-dosa daripada kebaikan yang tercemar dengan keburukan.
Telah sampai kepada kami bahwa seorang tokoh berkata : Dua orang laki-laki berjumpa di surga, yang satu lebih banyak menjalankan pusa dan shalat dalam keadaan senantiasa istiqamah dan melakukan inabah kepada Allah SWT.” Orang-orang berkata : “Bagaimana itu bisa terjadi? Ia menjawab : “Karena dia adalah yang paling wara’ di antara keduanya terhadap larangan-larangan Allah.” Inilah perbedaan keutamaan antara dua orang laki-laki tersebut.
Kemudian ada lagi tokoh yang lain berkata : “Barangsiapa yang ingin menjadi tekun dan sungguh-sungguh, hendaknya berusaha keras menahan diri dari dosa-dosa.” Wahai kaum, dekatkanlah diri mu kepada Allah SWT dengan takwa dan dengan menjauhi hal-hal yang haram adalah lebih beruntung di sisi Allah dan lebih tinggi nilainya daripada orang-orang yang beribadah sedangkan mereka masih mencampuradukan (antara mal salih dan dosa). Sekalipun mereka mengerjakan amal-amal salih, tetatpi tidak disertai maraqabah kepada Nya. Oleh karena itu, jadikanlah keinginan terbesarmu menjadi wara’ terhadap larangan-larangan Allah SWT dan meninggalkan perselisihan tentang larangan-larangan Allah SWT dan meninggalkan perselisihan tentangnya, kareena orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara mu, dan Allah pun hanya menerima amal perbuatan orang-orang yang bertakwa. Semoga Allah menjadikan kita semua seperti demikian.

(An-Nashaih 24) Memperbanyak Nawafil untuk melengkapi fardhu

(An-Nashaih 24) Memperbanyak Nawafil untuk melengkapi fardhu

Terjemah Kitab
“AN-NASHA’IH”


NASIHAT-NASIHAT “SANG SUFI”
Karya:
IMAM ABU ABDILLAH AL-HARITS BIN AS’AD 
“AL-MUHASIBI”
--000--
Klik disini untuk kembali ke awal (Daftar isi).
NASIHAT KE - 24
Memperbanyak Nawafil untuk melengkapi fardhu
Saudara-saudaraku! Apabila orang lain melaksanakan amalan sunnah dengan berpuasa dan shalat demi untuk mencari pahala, ingat, utamakanlah niatmu dalam memperbanyak shalat sunnah demi untuk menyempurnakan shalat fardhu, karena banyak cacatnya. Sebab, cita-cita orang yang berakal dalam seluruh amalan kebajikannya dan amalan sunnahnya adalah untuk menyempurnakan yag fardhu.
Telah sampai kepada kami, sesungguhnya di atas Jahannam terdapat beberapa jembatan. Pada jembatan pertama si hamba akan ditanya, maka jika imannya bebas dari nifaq, riya, keraguan dan ujub, ia akan selamat. Tetapi, jika tidak, pasti ia akan terlempar ke neraka. Lalu pada jembatan kedua ia akan ditanya tentang wudhu, mandi jinabah, tentang shalat dan puasa, maka jika ia telah menjalankannya dengan sempurna, ia akan selamat dan kalu tidak, ia akan terlempar ke neraka. Kemudian, pada jembatan ketiga akan ditanya pula tentang zakat, haji, dan umrah. Maka jika ia telah melaksanakannya dengan sempurna, selamatlah ia. Kalau tidak, akan terlemparlah ia ke neraka.  Semoga Allah SWT melindungi kita sekalian dari api neraka.
Di antara sahabat ada yang berkata : “Pertama-tama yang bakal diperhitungkan dari si hamba pada hari kiamat ialah Shalat wajib, maka jika ia sempurnakan shalatnya, ia akan selamat. Jika tidak. Akan dikatakan kepadanya ‘Lihat! Apakah ia memiliki amalan sunnah? Maka jika ia mempunyianya, akan disempurnakan kewajibannya dengan yang sunnah itu, tetapi jika kewajibannya tidak sempurna sedang ia tidak memiliki amalan yang sunnah, maka akan ditarik ujung rambut dan ujung kakinya, lalu dilemparkan ke neraka.” Semoga Allah melindungi kita sekalian dari hal demikian.
Telah sampai kepada kami bahwa Allah STW berfirman : “Tidak selamat dari-Ku hamba Ku kecuali dengan melaksanakan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya.” Saudara-saudaraku, kini aku yakin bahwa aku dituntut untuk melaksanakan kewajiban yang belum sempurna, bahkan tidak pula mendekati kesempurnaan, padahal aku juga menemukan kekurangan dalam amalan sunnahku lebih berlipat lagi. Maka, sempitlah dadaku sehingga aku khawatir bahwa kewajiban yang tidak pernah sempurna itu menjadi sia-sia, lalu ditambah pula dengan amalan sunnah yang ternyata lebih tidak berguna. Nah, bagaimana akan menjadi baik, pakaian compang-camping yang ditambal dengan tambalan yang buruk. Maka akupun yakin tentang amalan yang jauh dari kesempurnaan dan aku pun khawatir bahwa diriku akan terlempar bersama orang-orang yang terlempar. Sehingga akhirnya terpaksa aku berusaha keras untuk menunaikan segala kewajiban dengan sesempurna mungkin, namun tetap sangat butuh kepada amalan sunnah untuk menutupi kekurangan dalam batasan-batasannya. Di sampiing itu, akupun sangat memerlukan perbuatan-perbuatan kebajikan untuk menutupi keburukan-keburukan ku, dan hal itu cukup membuatku sibuk dari tujuan mencari pahala melalui amalan sunnah. Sungguh aku telah banyak sekali mengabaikan batasan-batasan kewajiban. Maka, renungkanlah urusan kalian, dan jika apa-apa yang telah menimpaku berupa kelalaian telah menimpa kalian pula meski hanya sebagiannya, perbanyaklah amalan sunnah untuk menyempurnakan kewajiban tersebut! Sebab, telah sampai kepada kami bahwa Allah SWT tidak menerima amalan sunnah sebelum kewajiban (yang fardhu) dilaksanakan. Dan telah sampai kepada kami pula bahwa kekurangan dalam kewajiban bakal ditutupi bilangannya dengan amalan-amalan sunnah bila amalan sunnah itu memadai. Demikian pula dengan kekurangan yang terdapat pada zakat, dapat ditutupi dengan sedekah bila memang sedekah itu memadai, dan seperti inilah seterusnya seluruh amalan kebajikan yang lainnya.
Adapun orang-orang berakal yang selalu menjunjung tinggi hukum-hukum Allah, maka jika ia sangat gemar melaksanakan amalan sunnah, biasanya yang dominan dalam hati dan niatnya adalah melaksanakan kewajiban terhadap Allah, kemudian ia sempurnakan kekurangannya dengan amal kebajikan yang banyak tersebut. Tidak hanya memperrbanyak, namun sudah seharusnya bahwa tujuan dan niatnya adalah untuk menyempurnakan hak-hak Allah SWT dengan rasa prihatin terhadap kekurangannya. Itulah akal yang paling utama, niat yang paling baik, dan amalan yang paling tinggi nilainya serta paling berat bobotnya. Rasulullah saw. Telah mensifati orang-orang seperti itu melalui sabdanya :  “Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang beramal itu, mereka adalah Ulama Allah, yang memahami Allah dan mengerti tetang-Nya serta menjalankan kewajiban mereka terhadapt-Nya.” Sampai kepada ucapan Beliau : “Merekalah orang-orang pilihan Allah di antara makhluk-Nya.” Inilah pperbedaan keutamaan antara dua orang, yang satu, tujuan dan niatnya adalah untuk menyempurnakan amal perbuatan demi Junjungannya, tidak peduli akan diberi pahala atau tidak untuk hal demikian. Sedang yang lain bagaikan orang upahan jahat yang hanya menuntut upah, padahal sebenarnya ia hanya merusak pekerjaan-pekerjaan orang yang mengupahnya. Tentu saja orang seperti ini sebenarnya lebih pantas untuk mendapatkan ssangsi dari upah, karena amemang selamanya ia hanya meminta upah pada sesuatu yang dapat mendatangkan sangsi. Seorang tokoh Ilmu Pengetahuan berkata : “Sekelompok orang merasa telah telah mengerjakan perbuatan-perbuatan taat yang banyak, tetapi ketika berada di hadapan Allah, mereka mencari-cari pahala dari perbuatan mereka dahulu, namun mereka malah menemukan bahwa ternyata Allah SWT telah membuat perhitungan dengan mereka sampai kepada hal kecil seberat atom. Sehingga nampaklah bagi mereka dari Allah SWT apa yang tidak mereka kira sebelumnya.”
Oleh karena itu, Wahai saudara-saudaraku, jadikanlah tujuan utamamu dalam memperbanyak amalan sunnah hanya untuk menutupi kekurangan pada amal perbuatan yang wajib. Karena itulah niat yang paling utama, tujuan yang paling mulia dan paling cocok dengan kecintaan Allah SWT. Dari titik inilah sebagian orang dapat mengungguli sebagian yang lain dan mereka saling melebihi dalam keutamaan. Semoga Allah memberikan Taufik kepada kita sekalian untuk setiap kebaikan melalui rahmat-Nya. Aamiin.