Showing posts with label KISAH SUFI. Show all posts
Showing posts with label KISAH SUFI. Show all posts

Tuesday, January 7, 2014

Kisah teladan KH. M. Marwan, AH  jragung Demak

Kisah teladan KH. M. Marwan, AH jragung Demak

KH. M. Marwan, AH  jragung Demak


Dawuh Kyai…..

ﻣﻦ ﺍﺭﺍﺩ ﺍﻥ ﻳﻜﻦ ﺍﺑﻨﻪ ﻋﺎﻟﻤﺎ ﻓﻠﻴﻜﺮﻡ ﺍﻟﻐﺮﺑﺎﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ﻭﺍﻥ ﻟﻢ
ﻳﻜﻦ ﺍﺑﻨﻪ ﻋﺎﻟﻤﺎ ﻓﺤﺎ ﻓﺪﻭﻩ ﻋﺎﻟﻤﺎ


“
Barangsiapa yang menginginkan anaknya kelak menjadi seorang yang ‘alim maka hendaknya memuliakan para ulama dan apabila anaknya tidakmenjadi ‘alim maka cucunya yang akan menjadi seorang ulama”


Pada usia 6 tahun Kh Marwan jragung telah ditinggal ayahnya untuk menghadap sang kholiq sehingga pada usia tersebut ibunya sendiri yang mengasuh serta mendidik sang Marwan kecil.

Dalam usia dini, beliau selalu mendapat perhatian khusus dari ibunya untuk mempelajari ilmu agama dan beliau bercita – cita agar kelak putranya dapat menjadi orang ‘alim.

Pertama kali beliau belajar kepada Syekh ‘Abdullah Sajad, seorang ulama yang berjiwa besar, perjuangannya tidak menetap, dimana beliau singgah di situ beliau mendirikan masjid, seperti di desa Jragung tempat kelahirannya.

Pada suatu hari simbah kyai Abdullah sajad mendapat firasat yakni akan munculnya seorang ulama besar di Jragung, sejak kecil Kh Marwan  dijadikan sebagai anak angkatnya, Kyai Abdullah Sajad mendidiknya dengan penuh perhatian layaknya seorang bapak kepada anaknya, setelah dewasa Kh Marwan  menimba ilmu di Salatiga untuk ngaji pada Kyai Ishom bin ‘Abdul Jalil Mbanca’an Salatiga, kemudian Kh Marwan  meneruskan belajarnya di Pondok Pesantren Futuhiyyah Suburan Mranggen, di sana berguru pada KH. Mushlih bin ‘Abdurrahman, selama di Futuhiyyah beliau mendapat gemblengan lahir batin hingga mendapat kepercayaan menjadi guru besar mursyid “Thariqah Qadariyyah Naqsabandiyyah”. Selain di PP. Futuhiyyah, beliau pernah nyantri di salah satu Pondok Pesantren di daerah Sarang Rembang, dan juga di Pare Kediri Jawa Timur.

Setelah di pandang oleh gurunya (simbah KH. Muslih) syari’ahnya sudah mampu/cukup Kh Marwan  mendapat restu untuk menghafalkan Al-Qur’an, kemudian Kh Marwan  di dawuhi menghafalkan di hadapan KH. Arwani Kudus, yang paling terkesan oleh Hadlratusy Syekh sebelum berangkat ke kudus, Kh Marwan  sowan dulu ke Simbah Kyai Siroth Solo masyhur ke’arifannya.

Beliau mendapat dawuh, “Seliramu ngapalke Qur’an sepuluh wulan opo sepuluh tahun ( kamu menghafal qur’an sepuluh bulan apa sepuluh tahun".

Akhirnya beliaupun berfikir, sepuluh bulan ya berat, sepuluh tahun juga berat, sama-sama berat. Singkat cerita Kh Marwan  mendapat pertolongan dari Alloh s.w.t. yakni dalam kurun waktu sepuluh bulan,
beliau bisa menghafal al-qur’an dan di lanjutkan qira’ah sab’ah dua tahun di hadapan Simbah KH.
Abdul Wahab Kudus atas restu Simbah KH. Arwani. Dari Kudus inilah, beliau mulai berjuang untuk menegakkan agama IslamPerjuangan tersebut di awali dengan mendirikan Pondok Pesantren di Jragung Demak, konon beliau berkeinginan mendirikan Pondok Pesantren di Sumatra, namun Simbah KH Arwani tidak merestui sehingga Kh Marwan  mendirikan Pondok Pesantren di Jragung dengan diberi nama “Roudlothuth Tholibin” dan Alhamdulillah atas restu sang guru, perjuanganpun sampai di Sumatra.

Dari Pondok Pesantren inilah, beliau mulai di kenal masyarakat luas, dari kalangan awam hingga pejabat, semuanya menaruh hormat kepada beliau, karena ilmu dan amalnya yang ikhlas semata – mata karena Alloh, beliau juga terkenal karena tawadlu’nya bahkan setiap ngaji belau sering berkata:


ﺗﻮﺍﺿﻊ ﺗﻜﻦ ﻛﺎﻟﻨﺠﻢ ﻟﺤﺎ ﻟﻠﻨﺎ ﻇﺮ # ﻋﻠﻰ ﻃﺒﺎﻗﻪ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻭﻫﻮ ﺭﻓﻴﻊ


Rendahkan dirimu maka engkau laksana bintang yang bersinar bagi orang yang memandang seperti hamparan air yang selalu diatas walaupun mengalir ke bawah


ﻭﻻﺗﻚ ﻛﺎﻟﺪﺧﺎﻥ ﻳﻌﻠﻮ ﺑﻨﻔﺴﻪ # ﺍﻟﻰ ﻃﺒﺎﻗﻪ ﺍﻟﺠﻮ ﻭﻫﻮ ﻭﺿﻴﻊ


Janganlah kamu seperti asap yang membumbung tinggi dengan sendirinya ke angkasa sedangkan asap itu rendah tak punya arti Dengan tawadlu’ seorang berilmu mendapat derajat yang tinggi di sisi Alloh, dan seperti itulah kepribadian Hadlratusy Syekh mendapat sanjungan “Ora ono kyai seng tawadlu’ zaman saiki, koyo tawadlu’e simbah kyai Marwan ( Tidak ada kyai yang tawadlu’ pada zaman ini seperti tawadlunya simbah kyai Marwan)” kata KH. Achmad Muthohar Mranggen.

Semangat perjuangan yang di miliki Kh Marwan  sangat besar, tak pernah surut walau banyak aral yang melintang, banyak sudah buah karya dan pemikiran-pemikiran beliau untuk mengibarkan bendera islam serta ikut andil dalam mencerdaskan bangsa.

Dalam bidang pendidikan formal beliau merintis berdirinya yayasan Miftahul ‘Ulum (MI, Madin, Mts) dan sebelum naik haji Kh Marwan  mendirikan SMU, yang kesemuanya di persembahkan untuk masyarakat Jragung Demak khususnya, kaum muslimin pada umumnya.

KH. M. Marwan, AH merupakan ‘Ulama yang berjiwa besar, berwawasan nasional dan menjunjung tinggi nilai-nilai peradapan, sudah pasti cita-citanya yang luhur akan selalu menjadi bukti, sekalipun Kh Marwan  telah tiada tapi namanya tetap hidup sapanjang masa.

Beliau wafat pada tanggal 20 Mei 2002 M /6 Rabiul Awal 1423 H. tepat pukul 20.25 WIB. Di RSI Roemani Semarang. Kh Marwan  menderita penyakit sejak dari tanah suci seusai menunaikan ibadah haji.Tidak ada seorang yang tahu kapan ajal itu tiba, yang ada hanya firasat atau tanda – tanta yang baru dapat di pahami setelah ajal itu tiba. ketika naik haji kali yang ke 4 pada tahun 2002 tidak seperti yang sebelumnya, beliau memberi wasiat kepada para santri, kepada keluarga khususnya kepada anak mantunya yakni KH. A. Asrori Lathif Alhafidz

“
Semongso-mongso aku ono udzur ingkang nerusake pengajian thoriqoh anakku asrori ( Sewaktu-waktu aku ada udzur, maka nanti yang meneruskan pengajian thariqah anakku Asrori” Ini seakan menjadi tanda bahwa Hadlratusy Syekh akan pergi selamanya.

Sekian lama beliau dirawat di rumah sakit tidak pernah mengeluh sedikitpun, namun beliau tetap tawakal kepada Allah s.w.t. Sampailah di hari kamis pada tanggal 17 Mei 2002 M /2 Rabi’ul Awal 1423 H di mana hari itu hari bersejarah menjelang detik- detik terakhir Hadlratusy Syekh sempat mengkhatamkan Al-Qur’an walau dalam keada’an berbaring. Malam harinya kira – kira pukul 02.00 WIB beliau berwasiat kepada para santri “Kabeh santriku tak jaluk tetep istiqamah ono pondok, nderes lan maju menyang Asrori, maju menyang Asrori podo karo maju menyang aku ( Semua santriku saya minta tetap istiqamah di pondok, mengaji dan maju setoran alqur’an kepada Asrori. Maju setoran alqur’an kepada Asrori sama saja seperti maju setoran di hadapanku).

Keada’an beliau sudah sangat kritis sehingga oleh dokter Kh Marwan  ditempatkan di ruang intensif. Di ruang inilah beliau kembali berwasiat kepada santri – santri “Aku jalukke ngapuro kabeh santri, aku wis ora biso mulang ( Aku tolong mintakan maaf kepada semua santri, aku sudah tidak bisa mengajar lagi)” Sabtu pagi tanggal 19 Mei 2002 M./4 R, Awal 1423 H. jam 10.00 WIB. Pada hari ahad kondisi Kh Marwan  semakin menurun, tepat ba’da magrib malam senin tanggal 20 Mei 2002 M./5 R. Awal 1423 H. beliau berwasiat kepada santri terdekat beliau yang bernama Syarqawi AH. “Syarqawi rene, aku ojo kok tinggal, mengko kiro-kiro jam songo aku arep lungo suwe ( Syarqawi kemarilah, aku jangan kamu tinggalkan, nanti sekitar jam 9 aku akan pergi lama)”.

Dan kenyata’an pukul 20.25 WIB beliau pulang kehadirat Allah s.w.t. Dengan membaca:

ﺍﺳﺘﻐﻔﺮﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ ﺍﻟﺬﻯ ﻻﺍﻟﻪ ﺍﻻﻫﻮﺍﻟﺤﻰ ﺍﻟﻘﻴﻮﻡ ﻭﺍﺗﻮﺏ ﺍﻟﻴﻪ

Demikian akhir dari orang yang sholeh yang dekat dengan Allah s.w.t. seakan-akan beliau mengetahui sesuatu yang bakal terjadi.

ﺍﻧﺎ ﻟﻠﻪ ﻭﺍﻧﺎ ﺍﻟﻴﻪ ﺭﺍﺟﻌﻮﻥ

Pada hari senin 21 Mei 2002 M./6 R. Awal 1423 H desa Jragung bagaikan lautan manusia, mereka datang untuk berta’ziah, memberi hormat terakhir kepada Hadlratusy Syeh KH. M. Marwan,AH. Hari itu juga Jragung cerah tak berawan namun hujan air mata cukup deras membanjiri pondok pesantren Roudlotuth Tholibin. Hadlratusy Syekh dikebumikan untuk selama lamanya, namun setiap waktu tak henti – hentinya para santri dan para peziarah membaca Al – Qur’an di pesarehan beliau, dan semoga kita bisa mengambil suri tauladan darinya amin amin amin ya robbal ‘alamin.


ﺍﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻌﻠﻰ ﺩﺭﺟﺎﺗﻪ ﻓﻰ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﻳﻨﻔﻌﻨﺎ ﺑﻪ ﻭﺑﻌﻠﻮﻣﻪ ﻭﻳﻤﺪﻧﺎ
ﺑﺎﺳﺮﺍﺭﻩ ﻭﺍﻧﻮﺍﺭﻩ ﻭﻳﻌﻴﺪ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﻣﻦ ﺑﺮﻛﺎﺗﻪ ﻭﻳﺮﺯﻗﻨﺎ ﺑﺒﺮﻛﺎﺗﻪ
ﻭﻳﺤﻔﻈﻨﺎ ﺑﺠﺎﻩ ﻋﻨﺪﺍﻟﻠﻪ ﻓﻰ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﺍﻷﺧﺮﻩ … ﺍﻣﻴﻦ

Monday, December 2, 2013

PERJALANAN TASAWWUF AL-GHOZALI ra

PERJALANAN TASAWWUF AL-GHOZALI ra

PERJALANAN TASAWWUF AL-GHOZALI ra

Setelah melalui perenungan mendalam, pada 488 H/1095 M ia meninggalkan Baghdad, dengan segala kemewahan dan ketermasyhurannya, menuju Damaskus, Syria, untuk menemukan ketenangan dan kesejatian hidup.

Imam Ghazali, atau lengkapnya Syaikh Abu Hamid Muhammad ibnu Muhammad ibnu Ahmad Ath-Thusi Al- Ghazali, adalah ulama besar penyusun kitab tasawuf Ihya Ulumuddin, yang sangat terkenal.
Al-Ghazali, anak pemintal wol dari Desa Ghazalah, sejak kanak-kanak memang sudah rajin mempelajari ilmu agama. Sejak belia ia sudah mengembara mendulang ilmu kepada para ulama besar, seperti Syaikh Ahmad ibnu Muhammad Al Razhani Al-Thusi, Abu Nash Ismail Al-Jurjani, Syaikh Yusuf Al-Nassaj, Imam Al-Haramain (Imam Masjidil Haram dan Masjid Nabawi) Abu Ma’al Al-Juwaini, serta belajar tasawuf kepada Syaikh Abu Ali Al- Fadhl ibnu Muhammad ibnu Ali Farmadi.
Puncak pencapaian keilmuannya ialah ketika ia diangkat menjadi rektor Madrasah Tinggi Nizhamiyah, perguruan paling bergengsi kala itu. Namun, kemapanan hidup dan ketenaran tersebut justru mulai menorehkan kegelisahan jiwanya.  Kesenangan hidup yang melimpah malah membuatnya sakit.
Selama hampir enam bulan ia terombang-ambing antara upaya mempertahankan keduniawian dan meraih kebahagiaan akhirat. Guncangan jiwa itu terjadi ketika hatinya bertanya-tanya, “Apakah sebenarnya pengetahuan hakiki itu? Dapatkah pengetahuan hakiki diraih melalui indra, ataukah dengan akal?” Guncangan guncangan ruhaniah itu sempat membuatnya linglung.
Tapi semua itu akhirnya terjawab dalam kitab Al-Munqidz Minadh Dhalal (Penyelamat dari Kesesatan).
Dalam beberapa riwayat diceritakan, untuk mengendapkan gejolak hatinya, Ghazali menghentikan seluruh aktivitasnya, baik perenungan maupun ibadah, selama 40 hari, sampai akhirnya cahaya Ilahi menerangi jiwa, qalbu, dan raganya sehingga ia mampu keluar dari keraguan.
Tasawuf, itulah jalan baru yang dianggapnya tepat, yang kemudian ditempuhnya untuk menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang mengusik qalbunya.
Setelah melalui perenungan mendalam, pada 488 H/1095 M ia meninggalkan Baghdad, dengan segala kemewahan dan ketermasyhurannya, menuju Damaskus, Syria, untuk menemukan ketenangan dan kesejatian hidup. Di bekas ibu kota Dinasti Umayyah ini, ia hidup bersama para sufi di Masjid Umawi.
Ia menjalani kehidupan zuhud, penuh riyadhah dan mujahadah, dengan disiplin keras. Pernah ia melakukan i’tikaf di menara masjid selama beberapa bulan dengan hanya makan sangat terbatas.
Tak lama kemudian ia hijrah ke Palestina. Rupanya ia sengaja hendak berkhalwat di Qubbatush Shakhrah di Baitul Maqdis, sebuah gua tempat Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman pernah berkhalwat. Di sana pula Rasulullah SAW berangkat mi’raj.
Di kubah berwarna kuning itu, setiap hari Ghazali bermunajat kepada Allah SWT. Semua pintu kubah ia kunci sehingga tak ada yang mengganggunya. Kemudian ia berziarah ke makam Nab Ibrahim AS di Al-Khalil.  Setelah merasa cukup, ia menuju Hijaz untuk beribadah haji dan menziarahi makam Rasulullah SAW.
Lalu ia bertolak ke Iskandariah, Mesir. Baru beberapa hari tinggal di kota pelabuhan ini, ia diminta kembali memimpin perguruan Nizhamiyah. Maka kembalilah ia ke Baghdad.
Namun, saat itu ia telah menjadi sufi, yang tentu tak mungkin kerasan tinggal di ibu kota Dinasti Abbasiyah, yang gemerlapan.
Maka tak lama kemudian ia pindah ke Thus dan mendirikan Madrasah Khanaqah sebagai lembaga untuk memperdalam tasawuf.
Di kota inilah, pada 505 H/1111 M, ia menghadap Sang Pencipta, dalam usia 55 tahun. Perjumpaan Ruhani Mengenai riyadhah bathinnya, ia mengatakan, “Setelah semua kegelisahan itu, perhatianku kupusatkan di jalan sufi.
Ternyata jalan ini tidak akan dapat ditempuh kecuali dengan ilmu dan amal. Langkahnya harus ditempuh melalui tanjakan-tanjakan bathin dan penyucian diri untuk mengkondisikan kesiapan bathin, kemudian mengisinya dengan dzikir kepada Allah SWT.” Katanya lagi, “Bagiku, ilmu lebih mudah daripada amal.
Maka aku pun segera memulai perjalanan spiritualku dengan mempelajari ilmu para sufi terdahulu, membaca karya-karya mereka. Antara lain Quth al-Qulub, karya Abu Thalib Al-Makki, dan karya-karya Haris Al-Muhasibi. Juga ujaran-ujaran Junaid Al-Bagdadi, Asy-Syibli, Abu Yazid Al- Busthami, dan lain-lain.”
Dari beberapa ungkapannya, terutama ketika ia mengatakan “Penjelasan lebih jauh kudengar sendiri dari lisan Al-Makki, Al Muhasibi, Al-Junaid, As-Syibli, dan lain-lain”, sepertinya ia mengalami perjumpaan dengan para pendahulunya itu secara ruhani.
Mengenai praktek tasawuf, ia menyatakan, ada hal-hal khusus yang hanya dapat dicapai dengan dzauq (perasaan) dan pengalaman bathin. “Sangat jauh jika engkau bermaksud memaknai sehat atau kenyang tanpa mengalami sendiri rasa sehat atau kenyang. Mengalami mabuk lebih jelas daripada hanya mendengar keterangan tentang arti mabuk.
Maka, mengetahui arti dan syarat syarat zuhud tidak sama dengan bersifat zuhud.”
Menurut Ghazali, kehidupan seorang muslim tidak dapat dicapai dengan sempurna kecuali mengikuti jalan Allah secara bertahap. Tahapan-tahapan itu, antara lain, taubat, sabar, fakir, zuhud, tawakal, cinta, ma’rifat, dan ridha.
Karena itu, seseorang yang mempelajari tasawuf wajib mendidik jiwa dan akhlaqnya.
Sementara itu, hati adalah cermin yang sanggup menangkap ma’rifat. Dan kesanggupan itu terletak dalam qalbu yang suci dan jernih.

Semoga Bermanfaat

Wednesday, September 4, 2013

no image

KH. AHMAD BASYIR Pengasuh ponpes Darul falah

KH. AHMAD BASYIR KAUMAN JEKULO KUDUS
Pengasuh ponpes Darul falah
Kauman jekulo Kudus
Ulama’ adalah pewaris para nabi. Ia mamainkan peran yang tidak sedikit dalam masyrakat. Sebagai center of attention in Islamic civilization (figure sentral dalam masyarakat Islam ) ulama’ tak ubahnya pengayom masyarakat yang perannya selalu dirindukan. Dalam lokalitas masyarakat manapun keberadan ulama’ menjadi unsur yang paling menentukan bagi nafas hidup wilayah itu. Kudus, eksistensinya sebagai kota santri tetap survive karena keberadaan para ulama’ yang selalu mengayomi. Maka tak heran jika Kudus menjadi simpul keilmuan para santri baik dari dalam, maupun luar daerah. Tak ubahnya Kudus menjadisurga bagi santri mengapa? Karena Kudus adalah gudang ulama’ khos. Banyak ulama’ di Kudus yang menjadi simpul peraduan masyarakat salah satu diantaranya adalah KH. Ahmad Basyir.
Masa kecil
30 november 1924 M silam adalah hari yang paling indah bagi pasutri Kyai Muhammad Mubin dan Nyai Dasireh. Hari itu, lahir seorang bayi mungil yang kelak menjadi orang besar, ulama’yang berpengaruh di tengah masyarakat, menjadi rujukan banyak orang dari berbagia penjuru tanah air. Oleh kedua orang tuanya, bayi itu dititihkan nama Ahmad Basyir, orang yang menyuguhkan nafas kebahagian bagi umat. Kelahiran beliau adalah “anugerah” terindah, bukan hanya bagi kedua orang tuanya, namun juga banyak kaum muslimin diseluruh tanah air.
Memburu ilmu
Saat usia kanak-kanak, KH. Ahmad Basyir mengenyam pendidikan formal di Veer Folex Schooll (sekarang SD) dan menamatkan jenjang kelas V. Pada saat itu belum ada jenjang kelas VI. Sekolah tempat KH.Ahmad Basyir mengenyam pendidikan formal itu sekarang menjadi SD Negeri 1 Jekulo. Selama mengenyam pendidikan di sana, beliau acapkali menjadi juara kelas. Karena prestansinya yang begitu gemilang, beliau pernah ditawari untuk diambil anak oleh gurunya di sekolah itu. Tujuannya akan dididik untuk jadi guru di sekolah itu.
Usai menamatkan pendidikan di Veer FolexSchooll, beliau melanjutkan pendidikan non formal di madrasah Diniyyah yang sekarang bernama Tarbiyatus Sibyan. Di madrasah ini beliau dididik oleh para Kyai sepuh, diantaranya adalah KH.Dahlan. di luar aktifitas belajar di madrasah Diniyyah, beliau mengaji kepada KH. Mansyur Kaelani, KH. Yasin, K. Hudlori dan KH. Zainuddin.
Dalam bidang Al-Qur’an, masa muda beliau berguru kepada Kyai Muhammad Mubin (ayahnya sendiri) dan Kyai Mukhib, dan pentashihan Al-Qur’an kepada KH. Mansyur Jekulo.
Selain rasa haus beliau terhadap ilmu, ketika masih remaja, beliau juga mulai gemar berziarah kemakam-makam para wali, seperti Sunan Kudus, Sunan Muria, makam mbah Ahmad Mutamakkin Kajen, dan makam para wali di Jekulo, diantaranya, Mbah Abdul Jalil, Mbah Abdul Qohhar, Mbah Sewonegoro, Mbah Sanusi, Mbah Yasin, Mbah Ahmad, Mbah Rifa’I dan Mbah Suryo Kusumo (Mejobo), yang tidak pernah beliau tinggalkan hingga sekarang. Itu adalah perwujudan rasa ta’dzim beliau kepada para Masyayeh dan Auliya’.
Termasuk tradisi beliau saat masa mudanya adalah silaturrahim kepada para Ulama’, seperti KH. Hamid Pasuruan. Beliau juga sering mengikuti khataman Al Qur’an bersama Mbah Arwani Kudus, baik di Kudus maupun di luar daerah.
Sebelum betul-betul menetap dalam menimba ilmu di PP. Bareng 1923 (sekarang PP. Al Qaumaniyah), pada tahun 1940 M beliau juga sempat nyantri dan menghatamkan Alfiyah di PP.Kenepan Langgar Dalem Kudus, waktu itu beliau berguru dengan KH. Ma’mun Ahmad, menghatamkan Al Qur’an kepada KH. Arwani Amin serta berguru kepada para Masyayeh di sekitar Kudus, diantaranya adalah KH. Irsyad danKH. Khandiq, kakak dari KH. Turaichan Adjhuri Kudus.
Saat beliau masih usia remaja, Mbah basyir seringmengikuti Romonya mengajar di Pesantren, oleh ibunya Nyai Dasireh Kyai Basyir kecil juga sering diajak sowan kepada Mbah Yasin saat itulah beliau diwejangi oleh Mbah Yasin agar beliau mengurungkan niatnya menjadi guru sekolah. Beliau diajak oleh mbah Yasin agar nyantri pada mbah beliau, si mbah yasin itulah yang mengukir jiwa mbah Basyir.
Mulai saat itu mbah Basyir mengabdi pada mbah Yasin mulai dari abdi dalem hingga jadi qori’, menjadi badal mbah Yasin mengajar para santri. Sejak saat itu, terkenal tiga serangkai ulama’ yang termasyhur, yaitu Kyai Muhammad, putra mbah Yasin, Kyai Hanafi menantunya, dan mbah Basyir sebagai lurah pondoknya. Pada waktu nyantri pada mbah Yasin beliau juga menimba ilmu pada KH. Muhammadun Pondohan Tayu.
Aktivis
Semasa mudanya sekitar tahun 1944-1945 M. beliau bergabung dalam BPRI ( badan perjuangan republic Indonesia) sebuah organisasi pemuda yang gigih memperjuangkan kemerdekaan RI saat itu BPRI dipimpin oleh bapak karmain dan bapak mulyadi jekulo. Sebelum masuk BPRI beliau masuk organisasi GPII ( gerkan pemuda islam Indonesia)
Masa perjuangan kemerdekaan saat itu, beliau faham betul, karena beliau adalah pelaku sejarah. Saat itu, kiayi basyir menjabat ketua pondok. Setiap ada pejuang yang ditahan direndenga, beliau bergegas mengupayakan sesuatu untuk membebaskannya.
Dalam pengembaraannya untuk tolabul ilmi pada tahun 1949 M. beliau kembali ke daerah jekulo dan kembali nyantri di popes bareng jekulo asuhan kyai H yasin. Sembari menimba ilmu, beliau mengabdi kepada kh. Yasin. Semua urusan mbah yasin beliau yang mengurusi. Bahkan, menyimpan uang sekalipun dipercayakan kepada mbah basyir. Suatu ketika mbah yasin waktu itu menderita penyakit bawasir. Dalam kondisi ini, mbah basir selalu ada untuk merawat beliau.
Kiayi basir dapat banyak mendapatkan pelajaran berharga dari pengabdiannya pada simbah yasin. Beliau tidak hanya mengaji riwayah, tetapi juga mengaji dirayah.

Sembari mengaji dan mengabdi, beliau melakukan riyadhah puasa tahunan, ijazah dari mbah yasin. Adab beliau pada sang guru begitu luar biasa. Konon, setiap merampungkan riyadah puasa berliau tidak berani meminta khizib ibi atau itu. Beliau matur kepada simbah yasin,” kulo sampun ba’do siyam”, tidak “nyuwun niki niku”
“Ini rasa ta’dhim kepada guru” inilah cara orang dahulu dalam ta’dhgim kepada guru, bagaimana mereka merasakan ilmunya,” ujuar kiayi KH. Ahmad badawi (putra kiayi basyir).
KH basyir menghabiskan masa mudanya sebagai santri, abdi kiayi, hari beliau dipenuhi dengan rutinitas berlajar, pekerjaan keseharian danpuasa. Rutin dengan riyadha selama puluhan thahun, pada th 1958 M oleh KH yasin beliau diserahi ijaZah dalail khoiroit beserta khizib-khizibnya.
Mendirikan pesantren
Pada tahun 1969M. bersama dengan kiayi lain, beliau mendirikan madrasah diniyah Nurul Ulum Jekulo Kudus. Nama nurul ulum merupakan pemberian KH. Cholil. Madrasah tersebut dipimpin kyai Khalimi dengan guru-gurunya adalah K. Cholil, KH. Khalimi, KH. Ahmad Basyir, dan K Mahin
Tahun 1970 M. beliau mendirikan pesantren Darul Falah yang bertempat disebelah utara masjid kauman jekulo. Cikal pesantren ini merupakan wakaf dari H. Basyir. H. Basyir memberi wakaf bangunan kuno kepada K AhmadBasyir. Kemudian bangunan itu dijadikan pondok pesantren yang diberi nama DARUL FALAH, tepatnya pada tanggal 1 januari 1970 M.
Berkeluarga
KH. Ahmad Basyir menikah dengan Hj. Sholikhah binti KH. Abdul Ghoni yang lahir didesa Hadiwarno Mejobo Kudus pada tanggal 31 desember 1946 M. pernikahannya dengan Nyai Hj. Sholihah ini dikaruniai Sembilan anak.
Dimata keluarga, kyai Basyir adalah sosok ayah yang penyanyang. Beliau selalu memberi teladan kepada keluaganya. Keuletan dan kesabaran beliau menjadi inspirasi bagi putra putrinya. Sosok K Basyir di tengah keluarga tidak sekedar kepala rumah tangga, tetapi juga sosok idola yang menjadi inspirasi teladan putra-putrinya.
K. Basyir adalah sosok ayah yang bertanggung jawab, penuh dedikasi dan berfikir progresif. Perjuangan beliau untuk keluarga tak pernah letih, apalagi putus asa. Tidak sedikit perjuangan beliau untuk anak anaknya. Pada saatitu dibareng tidak ada tradisi sekolah. Sekolah formal di mata masyarakat bareng adalah tabu. Kendati demikian K Basyir menyurau anaknya sekolah. Setiap pagi beliau menggayuh sepeda hingga kudus kulon untuk mengantarkan putrinya sekolah. Saat itu beliau menyekolahkan putrinya dimadrasah Mualimat. Di mata masyarakat. KH. Ahmad Basyir , sosok yang moderat dan menjadi pembaharu.

Menghadapi masyarakat beliau tampil khas dan kharismatik. Kedatangan tamu yang beragam jenis dari berbagai penjuru, dengan karakte masing masing, dengan membawa masalah yang kompleks, beliau menghadapinya dengan santun dan hormat tanpa membedakan.
Beliau orang yang tidak pemarah, dikerutan wajahnya yang bersinar itu, beliau selalu tersenyum segar. Senyum itu menjadi siraman rohani bagi orang yang beliau temui. Di mata santri dan masyarakat beliau adalah dermawan. Komitmen beliau jangan sampai santri rekoso dalam belajar. Beliau menangisi (memperjuangkan) anak dan santri (sungguh) luar biasa. Ujar KH. Badawi. KH. Ahmad Basyir memegang falsafah ilmu itu harus diamalkan walau hanya satu kali, kalau ingin manfaat.
Teladan
KH. Ahmad Basyir adalah teladan yang patut kita contoh. Beliau adalah seorang ulama’ yang mentradisikan riyadhoh (laku prihatin) sejak mudanya hingga sekarang. Tradisi itu masih beliau pegangi hingga usia ke 88 tahun ini. Keseharian beliau dihabiskan untuk beribadah, berjama'ah, ngucal kitab kuning, ziarah, menyuguh tamu serta selebihnya untuk keluarga dan masyrakat.
Saat malam hari sehabis mendidik santri beliau istirahat sesaat. Disaat orang tertidur lelep beliau dipastikan bangun ba’da nisfu lail beliau melakukan rutinitas beliau seperti wirid, sholat malam dan ibadah lainnya hingga waktu subuh tiba. Saya tidak pernah melihat mbah Basyir tidur setelah jam dua belas malam. Ujar KH M. Jazuli.
Sehabis menjadi imam jamaah sholat subuh di Masjid baitussalam, rutinitas beliau adalah berziarah ke makam masyayeh dan auliaya' sebagai guru beliau, yang sampai saat ini tidak pernah beliau tinggalkan. Itu adalah bentuk ta’dhim beliau tehadap para ulama’ yang telah mewariskan ilmu kepada beliau. Pada masa muda beliau terbiasa dengan puasa Dalail Khairat dan riyadhah lainnya, sampai akhirnya beliau diutus menjadi mujiz Dalail Khairat.
Enome riyalat, tuwo nemu derajat, riyalat kuwi jiret weteng nyengkal moto demikian beliau memberi penyegaran rohani kepada para santri yang hendak mengamalkan tradisi riyadhah. Baik puasa dalail maupun riyadhah lainnya. Menurut KH. Jazuli ungkapan itu diartikan sebagai bentuk usaha yang sungguh ketika masih muda baik dalam menuntut ilmu dan riyadhoh, ketika sampai waktunya orang tersebut akan mendapat kesuksesan baik dunia maupun akhirat. Rasa ta’dhim yang beliau agungkan saat ini juga merupakan suri teladan yang niscaya kita teladani. Yang beliau tradisikan hingga saat ini adalah berziarah ke makam para auliya di lingkungan Jekulo, yang merupakan guru guru beliau. Disinilah simpul hubungan guru dan murid yang tak pernah putus, terus berkesinambungan.

Wafat 

Beliau wafat hari selasa 18 maret 2014 pukul 00.05 wib dan di makamkan di pemakaman belakang masjid kauman Jekulo Kudus.
Banyak hal kita dapat teladani dari beliau, mulai dari kegigihan menuntut ilmu, kreatifitas hidup, perjuangan hingga akhlaqul karimah yang menjadi tempat kita berkiblat.