Showing posts with label RISALATUL-QUSYAIRIYYAH. Show all posts
Showing posts with label RISALATUL-QUSYAIRIYYAH. Show all posts

Tuesday, November 15, 2016

(BAB TIGA 45) MA’RIFAT (Al-Qusyairyyah)

(BAB TIGA 45) MA’RIFAT (Al-Qusyairyyah)

TERJEMAH KITAB 
RISALATUL-QUSYAIRIYYAH
PENJELASAN TENTANG
“TAHAPAN-TAHAPAN (MAQAMAT) PARA PENEMPUH JALAN SUFI”

45.
MA’RIFAT

Allah swt. berfirman :
“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya.” (Qs. AL-An’am :91).
Dalam sebuah tafsir dijelaskan bahwa ayat tersebut bermakna : “Mereka tidak mengenal Allah (ma’rifat sebagaimana seharusnya Dia dikenal.”
Diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda : “Podasi sebuah rumah adalah dasarnya. Pondasi Agama adalah pengenalan kepada Allah swt. yakin, dan akal yang teguh.” Aisyah lalu bertanya : “Demi ayah dan ibuku, menjadi tebusanmu, apakah akal yang teguh itu?” Beliau menjawab : “Menjga dari maksiat terhadap Alalh dan bersemangat dalam menaati Allah swt.” (Dikeluarkan oleh ad-Dailany, dari Aisyah r.a.).
Ditinjau dari segi bahasa, para ulama mengartikan ma’rifat adalah ilmu. Semua ilmu adalah disebut ma’rifat, dan semua ma’rifat adalah ilmu, dan setiap orang yang mempunyai ilmu (‘alim) tentang Allah swt. berarti seorang yagn ‘arif, dan setiap yang ‘arif berarti ‘alim. Tetapi di kalangan Sufi, ma’rifat adalah sifat dari orang yang mengenal Allah swt, melalui Nama-nama serta Sifat-sifat-Nya dan berlaku tulus kepada Allah swt, dengan muamalatnya, kemudian menyucikan dirinya dari sifat-sifat yang rendah dan cacat, yang terpaku lama di pintu (ruhani), dan yang senantiasa i’tikaf dalam hatinya. Kemudian dia menikmati keindahan dekat hadirat-Nya, yang mengukuhkan ketulusannya dalam semua keadaannya. Memutus segala kotoran jiwanaya, dan dia mencondongkan hatinya kepada pikiran apa pun selain Alalh swt. sehingga ia menjadi orang asing di kalangan makhluk. Ia menjadi bebas dari bencana dirinya, bersih dan tenang, senantiasa abadi dalam sukacita bersama Allah swt. dalam munajatnya. Di setiap detik senantiasa kembali kepada-Nya, senantiasa berbicara dari sisi Al-Haq melalui pengenalan rahasia-rahasia-Nya. Dan ketika Allah swt. mengilhaminya dengan membuatnya menydari rahasia-rahasia-Nya akan takdirnya, maka pada saat itu ia disebut seorang ‘arif, dan keadaannya disebut ma’rifat. Jelasnya, frekuensi keterasingannya terhadap dirinya sendiri (dan seluruh makhluk yang ada) semata karena sukses ma’rifatnya kepada Allah swt.
Para syeikh, masing-masing berbicara tentang ma’rifat, sesuai dengan pengalamannnya sendiri dan menunjukkan isyarat apa yang datang kepadanya pada waktunya.
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata : “Salahsatu tanda ma’rifat adalah munculnya haibah dari Allah swt. Barangsiapa bertambah ma’rifatnya, bertambah pula habah-nya.” Saya mendengar beliau juga menyatakan : “Ma’rifat membawa ketentraman dalam hati, sebagaimana pengetahuan membawa kedamaian. Jadi, orang yang ma’rifatnya bertambah, maka bertambah pula ketentramannya.”
Asy-Syibly berkata : “Bagi sang ‘arif tidak ada keterikatan, bagi sang pecinta tidak ada keluhan, bagi sang hamba tidak ada tuntutan, bagi orang yang takut kepada Alalh tidak ada tempat yang aman, dan bagi setiap orang tidak ada jalan lari dari Allah.” Ketika asy-Syibly ditanya tentang ma’rifat, dia menjawab : “Awalnya adalah ma’rifat hanya bagi Alalh swt. dan yang akhirnrya adala sesuatu yang tiada hingga.”
Abu Hafs berkata : “Sejak diriku mencapai ma’rifat, tiada lagi kebenaran ataupun kebatilan yang memasuki hatiku.” Ucapan Abu Hafs ini mengandung kemusykilan. Mungkin sekali Abu Hafs menunjukkan bahwa dalam padangan Sufi, ma’rifat menjadikan sang hamba kosong dari dirinya sendiri, karena dia dilimpahi oleh dzikir kepada-Nya. Dengan demikian, tidak melihat apapu selain Alalh swt. tidak pula musyahadah kepada selain Allah swt. Sebagaimana seorang yang berakal berpaling kepada hati dan refleksi pemikirannya terhadap obyek pemikirannya, atau kondisi yang dihadapinya. Bagi sang ‘arif, semata kembali pada Tuhan-nya. Jika seseorang disibukkan dengan Tuhannya semata, maka dia tidak akan berpaling kepada hatinya sendiri. Bagaimana mungkin masalah tersebut memasuki hati seseorang yang tidak punya hati?” Bedakanlah antara orang yang hidup dengan hatinya, dan orang yang hidup dengan Tuhannya.
Ketika ditanya tentag ma’rifat, Abu Yazid al-Bisthamy menjawab dengan menyitir ayat : “Sesungguhnya raja-raja jika mereka memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya dan menjadikan penduduknya yang mulia menjadi hina.” (Qs. An-Naml :34). Abu Yazid menyatakan : “Manusia mempunyai ihwal ruhani, bagi yang ‘arif tidak ada. Sifat-sifat manusiawinya terhapus dan ke-dia-annya telah berubah menjadi ke-Dia-an lain. Pengaruhnya gaib karena faktor Lain di luar dirinya.”
Muhammad al-Wasithy berkata : Ma’rifat tidak dibenarkan jika dalam diri si hamba masih ada rasa kepuasan dengan Allah swt. dan kebutuhan terhadap-Nya.”
Dengan ucapan ini al-Wasithy memaksudkan bahwa kebutuhan dan kepuasan adalah sebagai tanda-tanda kesadaran jiwa pada diri si hamba dan tanda-tanda tetapnya sifat-sifatnya, karena keduanya merupakan sifat-sifatnya. Sang ‘arif terlebur dalam obyek ma’rifatnya. Bagaimana mungkin ma’rifatnya, shahih – bila kebutuhan dan kepuasan dengan-Nya masih meelkat – sementara dia lebur dalam Wujudn-Nya atau terserap dalam musyahadah pada-Nya, tetapi belum sepenuhnya mencapai wujud dan masih dipisahkan oleh kesadaran akan sifat apa pun yang mungkin dimilikinya? Karena alasan inilah al-Wasithy juga mengatakan : “Barangsiapa ma’rifat kepada Alalh swt. berarti terputus, bahkan bisa dan hampa.”
Nabi saw. menyabdakan :
“Aku tak bisa memuji-Mu sepenuhnya.” (Hr. Baihaqi).
Inilah sifat-sifat mereka yang perspektifnya jauh. Sementara mengenai mereka yang puas dengan batasan tersebut, mereka telah banyak berbicara dengan ma’rifat dengan panjang lebar.
Ahmad bin Ashim al-Anthaky berkata : “Siapa yang lebih ma’rifat (terhadap) Allah swt. semakin dia takut pada-Nya.”
Salah seorang Sufi berkata : “Barangsiapa ma’rifat (terhadap Allah swt. akan dikokohkan oleh keabadian, dan dunia seisinya terasa sempit.”
Dikatakan : “Barangsiapa ma’rifat kepada Allah swt. Dia akan menjernihkan hidupnya, dan memberikan kebajikan hidup padanya. Segala sesuatu gentar kepadanya, dia sendiri tidak takut pada sesuatu pun di antara makhluk, dan dia mengalami sukacita yang luas biasa dengan Allah swt.”
Dikatakan : “Barangsiapa ma’rifat (terhadap) Allah swt. hilangah keinginan akan segala yang ada, dan dia tidak terikat ataupun terpisah dari mereka.”
Dikatakan : Ma’rifat mendatangkan rasa malu dan sikap pengagungan, sebagaimana tauhid mendatangkan keridhaan dan kepasrahan kepada Allah swt.”
Ruwaym bin Ahmad berkomentar : “Ma’rifat adalah cermin sang ‘arif. Bila dia menatap cermin itu. Tampaklah Tuhannya.”
Dzun Nuun al-Mishry menuturkan : “Ruh pra Nabi berlomba di padang ma’rifat dan ruh Nabi kita Muhammad saw. memenangkan arwah para Nabi --- Semoga Allah melimpahkan kesejahteraan kepada mereka – ke  taman wishaal.” Dia juga mengatakan : “Pergaulan sang ‘arif (terhadap orang lain) adalah seperti perlakuan Allah swt, dia  bersabar terhasapmu karena dia meniru Akhlak Allah swt.”
Hasan bin Yazdaniyar ditanya : “Kapakah seorang ‘arif menyaksikan Allah swt.?” Dia menjawab : “Ketika Penyaksi Tampak, maka sarana penyaksian lenyap, indera pun musnah dan keikhlasan melebur.”
Al-Husain bin Manshur al-Hallaj berkata : “Apabila si hamba mencapai tahapan ma’rifat, Allah swt. membisikan melalui bisikan-bisikan dan menjaga batinnya, agar tidak dicampuri oleh bisikan yang tidak haq.” Al-Hallaj juga mengatakan : “Tada seorang ‘arif adalah bahwa dia kosong dari dunia dan akhirat.”
Sahl bin Abdullah mengatakan : “Pangkal ma’rifat ada dua : “Kedahsyatan dan kebingungan.”
Dzun Nuun al-Mishry menegaskan : “Orang yang paling ma’rifat (terhadap) Allah adalah yang paling besar kebingungannya.”
Seorang laki-laki berkta kepada al-Junyad : “Di antara ahli ma’rifat, ada sebagian yang mengatakan, ‘Meninggalkan setiap macam gerakan (lahiriah) adalah bagian dari kebajikan dan takwa.” Al-Junayd menjawab : “Mereka itu adalah orang-orang yang mengusulkan agar meninggalkan semua amalan, yang menurut pendapatku merupakan kekeliruan besar. Pencuri dan pezina lebih baik perilakunya daripada mereka yag berucap demikian. Sebab sang ‘arif memperoleh amal-amal dari Allah swt. dan mereka kembali kepada Allah swt. melalui amal-amal tersebut. Seandainya aku hidup seribu tahun, aku tidak akan mengurangi pelaksanaan amal kebajikan sekecil biji sawi sekalipun.”
Ditanya kepada Abu Yazid al-Bisthamy : “Dengan apa engkau mencapai ma’rifat?” Dia menjawab : “Melalui erut yang lapar dan tubuh yang telanjang.”
Abu Ya’kub an-Nahrajury menuturkan : “Aku bertanya kepada Abu Ya’kub as-Susy : “Apakah sang ‘arif bersedih karena sesuatu selain Allah swt?” Dia menjawab : “Dan apakah dia melihat sesuatu selain Dia yang membuatnya bersedih?” Aku lalu bertanya : “Lantas dengan mata yang mana dia melihat segala alam ini?” Dia menjawab : “Dengan mata fana’ dan kehangusan.”
Abu Yazid al-Bisthamy berkata : “Sang ‘arif terbang dan sang zahid berjalan.” Dikatakan : “Mata sang ‘arif menangis, tetapi hatinya tertawa.”
AL Junayd menyatakan : “Sorang ‘arif tidak akan menjadi ‘arif sampai dia menjadi seperti bumi : diinjak oleh orang yang baik maupun jahat, dan sampai dia menjadi seperti hujan; menyirami segala sesuatu, baik yang mencintainya maupun membencinya.”
Yahya bin Muadz berkata : “Sang ‘arif keluar dari dunia ini tanpa mencapai tujuannya dalam dua hal : menangisi diri sendiri dan pujiannya pada Tuhannya Yang Maha Agung dan Lihur.”
Abu Yazid al-Bisthamy berkata : “Merekan mencapai ma’rifat hanya dengan mengorbankan apa yang mereka miliki dan tinggal dengan apa yang jadi milik-Nya.”
Yusuf bin Ali menegaskan : “Seseorang tidak akan menjadi ‘arif sejati sampai seandainya kerajaan Sulaiman diberikan kepadanya, kerajaan itu tidak memalingkan perhatiannya sekejap mata pun dari Allah swt.”
Ahmad bin Atha’ menjelaskan : “Ma’rifat dibangun dengan tiga tiang : Rasa gentar (haibah), malu (haya’) dan kesukacitaan (Uns).”
Dzun Nuun al-Mishry ditanya : “Degan apa engkau mengenal Tuhanmu?” Dia menjawab : “Aku mengenal Tuhanku dengan Tuhanku. Kalaulah tidak karena Tuhanku, niscaya aku tidak akan menganl Tuhanku.”
Dikatakan : “Ulama menjadi panutan, sedangkan seorang ‘arif adalah sumber petunjuk.”
Asy-Syibli mengatakan : “Sang ‘arif tidaklah berurusan selain dengan Dia. Dan tidak pula dia berbicara dengan pembicaraan tentang sesuatu selain-Nya, dan tidak melihat satu pelindung pun bagi dirinya selain Allah swt.”
Dikatakan : “Sang ‘arif memperoleh kesenangan dengan dzikir kepada Allah swt. dan ditakuti oleh makhluk-Nya. Dia membuatnya tidak butuh pada makhluk. Sang ‘arif selalu merasa hina di hadapan Allah swt. lantas Allah memuliakan di hadapan makhluk-Nya.”
Abu ath Thayyib as-Samary mengatakan : “Ma’rifat adalah munculnya Al-Haq di lembah batin melalui cahaya terus menerus memancar.”
Dikatakan : “Sang ‘arif itu di atas apa yang dikatakannya, dan sang ulama di bawah apa yang diucapkannya.”
Abu Sulaiman Abdurrahman ad-Darany berkata : “Allah swt. menyingkapkan kepada sang ‘arif di tempt tidurnya, yang tidak Dia ungkakan kepada orang lain, padahal orang lain itu sedang shalat.”
Al-Junayd mengatakan : “Sang ‘arif adalah yang berbicara haq dari batinnya, sedangkan ia sendiri dalam keadaan diam.”
Dzun Nuun menyatakan : “Bagi setiap orang ada hukuman tertentu, dan hukuman bagi seoang ‘arif adalah terputus dari dzikir kepada Allah swt.
Ruwaym berkata : “Riya’nya orang-orang ‘arif lebih utama daripada keikhlasan para murid (pencari).”
Abu Bakr Muhammad al-Warraq berkata : “Diamnya seorang ‘arif adalah paling bermanfaat, dan bicaranya adalah paling simpatik dan paling menyenangkan.”
Dzun Nuun al-Mishry menegaskan : “Meskipun para zahid adalah raja-raja di akhirat, padahal mereka adalah paling fakirnya ‘arifin.”
Ketika al-Junayd ditanya tentang san ‘arif, dia menjawab : “Warna air adalah warna wadahnya.” Artinya, sifat orang ‘arif selalu ditentukan oleh waktunya.
Abu Yazid al-Bisthamy ditanya tentang sang ‘arif. Dia mengatakan, : “Dia tidak melihat sesuatu pun selain Allah swt. dalam tidurnya dan tidak melihat satu pun selain Allah swt. di saat bangunnya. Dia tidak sesuai dengan selain Allah swt, dan dia tidak memandang kepada selain Alalh swt.”
Abdullah bin Muhammad ad-Dimasyqy berkisah, bahwa salah seorang syeikh ditanya : “Dengan apa Anda mengenal Allah swt.?” Dia amenjawab : “Dengan kilatan cahaya yang memancar melalui lisan yang diambil dari pembedaan biasa dan dengan satu kata yang meluncur melalui lisan seseorang yang binasa dan musnah.: Ia menunjuk kepada suatu ekstase yang muncul dan menuturkannya dari rahasia yang tertutup. Dirinya adalah apa yang diungkapkannya dari rahasia yang tertutup. Dirinya adalah apa yang diungkapkan-Nya; sedangkan yang lain-Nya adalah faktor yang menyulitkannya. Kemudian ia mendendangkan lagu-lagu :
Engkau bicara tanpa ucapan, adalah bicara yang sungguh
Hanya bagi-Mu, apakah tertulis atau lebih jelas
Dan sekedar bicara
Engkau Tampakkan, agar aku tersembunyi, padahal
Aku adalah orang yang bersembunyi
Engkau kilatkan cahaya padaku,
Aku pun bicara dengan kilatan.
Ketika ditanya sifat seorang ‘arif, Abu Turab Askar an-Nakhsyaby menjelaskan : “Tak sesuatu pun mengotorinya, justru segala sesuatu menjadi bersih karenanya.”
Abu Utsman Sa’id Maghriby berkata : “Cahaya pengetahuan bersinar bagi sang ‘arif, hingga dia melihat dengannya keajaiban-keajaiban yang gaib.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menyatakan : “Sang ‘arif hancur dalam lautan hakikat. Sebagaimana dikatakan oleh salah seorang Sufi, “Ma’rifat adalah ombak yang membumbung, naik dan turun.”
Yahya bin Mu’adz ditanya tentang sang ‘arif, dan menjawab : “Seseorang yang ada dan terpisah.” Ia katakan sekali lagi : “Mula-mula ada, kemudian terpisah.”
Dzun Nuun adl-Mishry mengatakan : “Tanda seorang ‘arif ada tiga : Cahaya ma’rifatnya tidak meniup cahaya wara’-nya; dia tidak percaya pada pengetahuan batin; apabila merusak hukum-hukum lahir; dan melimpahnya rahmat Allah swt. kepadanya tidak mendorongnya untuk merobek tirai yang menutupi kehormatan Alalh swt.
Dikatakan : “Orang yang ‘arif bukanlah orang yang berbicara tentang ma’rifat di hadapan generasi akhirat, dan lebih-lebih lagi bukan a’rif jika dia berbicara hal itu di hadapan orang-orang yang terikat pada dunia.”
Abu Sa’id al-Kharraz menyatakan : “Ma’rifat datang dari sebuah mata kedermaan dan curahan usaha serius.”
Ketika al-Junayd ditanya tentang perkataan Dzun Nuun al-Mishry mengenai sifat seorang ‘arif, (Dia ada di sana, kemudian menghilang pergi), maka al-Junayd menjawab : “Seorang ‘arif tidak dibatasi oleh kondisi ruhani satu ke kondisi lain, tidak pula ditirai oleh tahap yang berpindah dari satu ke lainnya. Jadi, dia berada bersama orang banyak dari setiap tempat seperti halnya mereka, dia mengalami apa pun yang mereka alami, dan dia berbicara dengan bahasa mereka agar mereka bisa memberikan manfaat dengan pembicaraannya.”
Muhammad ibnul Dadhl berkata : “Ma’rifat adalah hidupnya hati bersama Allah swt.”
Abu Sa’id al-Kharraz ditanya : “Apakah sang ‘arif sampai pada kondisi, dimana air mata telah kering?” Dia menjawab : “Memang Menangis termasuk dalam masa ketika mereka melakukan perjalanan menuju Allah swt. Ketika mereka turun menuju lembah hakikat taqarub, dan mengalami rasa wushul dan anugerah-Nya, tangisan itu akan sirna.”

(BAB TIGA 44) KELUAR  DARI  DUNIA (Al-Qusyairyyah)

(BAB TIGA 44) KELUAR DARI DUNIA (Al-Qusyairyyah)

TERJEMAH KITAB 
RISALATUL-QUSYAIRIYYAH
PENJELASAN TENTANG
“TAHAPAN-TAHAPAN (MAQAMAT) PARA PENEMPUH JALAN SUFI”
44.
KELUAR  DARI  DUNIA

Allah berfirman :
“(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka) “Salaamun’alaikum” masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (Qs. An-Nahl :32).
Ayat tersebut memiliki maksud bahwa kebajikan jiwa mereka dengan mencurahkan ruh mereka, sehingga mereka kembali kepada Tuhannya, dengan jiwa kyang tidak berat.
Riwayat dari Anas r.a. yang berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda :
“Sesungguhnya seorang hamba akan berurusan dengan kesusahan maut dan sakaratul maut, dan sesungguhnya sendi-sendinya akan mengucapkan salam (perpisahan) satu sama lainya dengan kata-kata, “Alaikassalaam” engkau berpisah denganku, dan aku berpisah denganmu, sampai (jumpa) di hari kiamat nanti.”
Juga diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a. bahwa Nabi saw. sedang menjenguk seorang pemuda yang mendekati ajalnya. Nabi saw. bertanya : “Bagaimana maut menemui Anda?” Pemuda itu menjawab : “Aku berharap kepada Allah swt. dan aku takut akan dosa-dosaku.”
Rasulullah saw. bersabda, “(Harapan bertemu Allah dan rasa takut akan dosa-dosa) tidak akan berkumpul di hati hamba, dalam tempat ini, kecuali Allah swt, memberikan padanya apa yang diharapkannya, dan memberikan rasa tentram dari apa yang ditakuti....”
Ketahuilah bahwa perilaku mereka saat menghadapi ajal (naza’) berbeda-beda. Diantaranya ada yang terlimpahi rasa takut namun disertai rasa hormat (haibah), adapula yang dilimpahi rasa harapan (raja’)  dan di antara mereka ada yang dibuka oleh Allah swt. sekertika itu akan hal-hal yang berkaitan dengan keharusan mereka untuk tentram dan tenang serta keteguhan yang baik.
Ahmad al-Jurairy berkata : “Aku sedang di sisi al-Junyad ketika naza’nya. Saat itu hari Jum’at dan kebetulan tahun baru. Junayd sedang membaca Al-Qur’anu; Karim, hingga mengkhatamkannya. Pada saat itu aku berkata : “Hai Abul Qasim!” lantas dia menjawab : “Siapa yang lebih layak (mengkhatamkan Al-Qur’an menjelang ajal) daripada aku, dan inilah, lembaranku dibentangkan.”
Abu Muhammad Abdullah al-Ibrahim al-Harawy berkata : “Aku menghampiri rumah asy-Syibly pada malam ketika ajalnya tiba. Sepanjang malam itu dia mendendangkan syair berikut :
Setiap rumah, Engkau penghuninya
Tak butuh lagi pada lentera
Wajah-Mu yang diharapkan
Adalah hujjah kami
Di hari ketika berduyun-dduyun manusia
Dengan hujjah-hujjahnya.
Bisyr al-Hafi ditanya ketika maut hendak menjemputnya : “Tampaknya Anda mencintai dunia, wahai Abu Nashr?” Maka al-Hafi menjawab : “Datang kepada Allah Azza wa Jalla sungguh dahsyat.”
Dikisahkan, bila Sufyan at-Tsaury menjenguk sebagian murid-muridnya, senantiasa berkata kepada mereka : “Bila kalian menemukan maut, belikan untukku.” Ketika wafatnya akan tiba, beliau berkata : “Kami sungguh mengharapkannya, tetapi, tiba-tiba maut itu sungguh dahsyat.”
Didkatakan : “Ketika al-Hasan bin Ali bin Abu Thalib mendekati wafatnya, beliau menangis. Maka ditanya : “Apa yang membuatmu menangis?” Beliau menjawab : “Aku bakal datang kepada Tuan Yang bernah kulihat.”
Ketika Bilal mendekati ajalnya, sang istri meratap : “Duhai betapa sedihnya ....” maka Bilal menimpali : “Oh, betapa girangnya, esok kami menemui para kekasih : Muhammad dan tentaranya.”
Dikatakan : “Abdullah ibnul ubarak membuka kedua bola matanya menjelang wafat, dan tiba-tiba tertawa, sembari mengumandangkan ayat suci : “Untuk kemenangan serpa ini hendaklah berusaha orang-orang yang beramal.” (Qs. Ash-Shaffat : 61).
Dikatakan bahwa Abdullah ibnul Mubarak sedang dirundung duka, kemudian, kemudian orang-orang menjenguknya saat menjelang kematiannya, sedangkan ia tampak tertawa. Kemudian ia ditanya soal tertawanya itu : “Mengapa aku tidak boleh tertawa?” Sedangkan perpisahan dengan yang paling kujauhi telah dekat, sementara tiba lebih cepat pada Dzat Yang benar-benar kuharapkan begitu mendekat?”
Ruwaym bin Ahmad berkata : “Aku hadir pada saat menjelang wafatnya Ahmad bin Isa al-Kharraz. Ketika itu, pada detik-detik terakhir nafasnya ia menguntaikan syair :
 Ratapan rindu kalbu ‘arifin ketika mengingta
Kenangan mereka di waktu munajat bagi rahasia
Ketika piala diputar di antara mereka para pengharap
Mereka terapung dari dunia, melayang
Bagai para pemabuk yang kepayang
Cita-citanya mengembara di kemah-kemah
Di sana para pecinta Allah bagai binntang-bintang cemerlang
Tubuh-tubuhnya mati di muka bumi karena cintanya
Sedangka arwahnya dalam tirai membubung tinggi
Tiada kemesraan pengantin mereka, kecuali Kedekatan Sang Kekasih
Sedang bencana dan keburukan
Tak pernah menyentuh.”
Dikatakan pada la-Junayd, bahwa Abu Sa’id al-Kharraz banyak ekstase di saat menjelang mautnya. Al-Junayd menjawab : “Bukan hal yang menakjubkan, jika ruhnya terbang menggapai kerinduan.”
Sebagian Sufi berkata, saat-saat dekat ajalnya : “Hai Ghulam! Cincanglah ketiakku, dan pendamlah pipiku dalam debu ...! Selanjutnya mengatakan : “Perjalanan telah dekat, dan susngguh bagiku tak terbebas dari dosa, tiada keringanan yang bisa dilakukan, tiada kekuatan yang bisa menolong, Engkau hanya untukku, Engkau hanya bagiku....? Kemudian si Sufi berteriak, lantas mati. Tiba-tiba orang-orang di sekelilingnya mendengar suara : “Seorang hamba hidup tena g di sisi Tuhannya, dan diterima oleh-Nya.”
Dikatakan kepada Dzun Nuun al-Moshry menjelang wafatnya : “Apa keinginan Anda?” Jawabnya : “Aku ingin mengenal-Nya sebelum kematianku, walaupun sejenak.”
Dikatakan kepada salah seorang Sufi menjelang ajalnya : “Ucapkan : “Allah” Ia menjawab : “Sampai kalian semua menyuruhku begitu, sedangkan aku sendiri terbakar dalam Allah swt.?”
Sebagian mereka berkata : “Suatu ketika aku sedang berada di tempat Mumsyad ad-Dinawary, tiba-tiba ada seorang fakir datag seraya berucap : “Assalamu’alaikum”. Mereka yang hadir menjawab salamnya. Si Fakir itu berkata : “Apakah di sini ada tempat yag bersih, yang memungkinkan bisa ditempati oleh manusia yang mati?” Mereka menunjukkan sebuah tempat dan sebuah mata air. Si fakir itu lantas mendatangi tempat tersebut, mengambil air mudhu, shalat dan ... masya Allah Azza wa Jalla  --- mendatangi tempat yang ditunjukkan oleh mereka, kemudian menjulurkan kakinya, lalu mati.”
Suatu hari Abul Abbas Ahmad ad-Dinawary sedang berbicara dalam majelisnya. Tiba-tiba seorang wanita berteriak, karena ekstase. Ahmad berkata padanya : “Suatu kematian?” Lalu wanita itu berdiri, dan ketika sampai di pintu rumah, wanita itu menoleh pada Ahmad sembari berkata : “Aku telah mati, dan aku benar-benar menjadi mayit.”
Salah seorang Sufi mengisahkan : “Aku sedang berada di rumah Mumsyad ad-Dinawary menjelang wafatnya, lalu dikatakan kepadanya : “Bagimana dengan penyakit Anda?” Dia menjawab : “Lupakanlah dariku penyakit itu, bagaimana Anda menemukan diriku?” Lalu dikatakan padanya : “Ucpakanlah Laa Ilaaha Illallaah”. Kemudian ia palingkan wajahnya ke tembok, sambil mengucapkan : “Aku telah musnah kesseluruhanku pada-Mu, inilah balasan bagi orang yang mencintai-Mu.”
Dikakatakan kepada Muhammad ad-Dubaily ketika menjelang wafatnya : “Ucapkan, Laa Ilaaha Illallaah.” Lalu dia menjawab : “Ucapan ini sudah kami kenal, bahkan dengan ucapan tersebut kami fana’”
Kemudian beliau membacakan syair :
Engkau memakai pakaian linglung,
Ketika engkau terpesona dengan-Nya
Dia menolak dan tak rela
Tak sudi dirimu adalah hamba-Nya.
Dikatakan kepada asy-Syibly menjelang wafatnya : “Ucapkanlah Laa Ilaaha Illallaah.” Lalu asy-Syibly mendendangkan syair :
Berkatalah penguasa cintanya
Aku tak menerima yang lain
Bertanyalah dengan yang lain
Mengapa kematian ia berurusan?
Ahmad bin Atha’ berkata : “Aku mendengar salah seorang fakir berkata : “Ketika Yahya al-Ashtakhry akan meninggal, kami duduk di sekitarnya, lantas alah seorang di antara kami berkata : “Ucapkalah Asyhadu an-Laa Ilaaha Illallaah.” Lantas beliau duduk lurus, kemudian meraih tangan salah ssatu dari kami, dan berucap : Katakanlah, Asyhadu an-Laa Ilaaha Illaallaah.” Lalu meraih tangan yang lain sampai syahadt tersebut merata pada semua hadirin. Barulah kemudian beliau meninggal.”
Diriwayatkan dari Fatimah saudari Muhammad ar-Rudzbary : “Ketika saudaraku (Abu Ali Ahmad ar-Rudzbary) mendekati ajal, kepalanya ada di pangkuanku, sedangkan kedua bola matanya terbuka, sembari berkata : “Inilah, pintu-pintu langit terbuka, dan surga itu benar-benar telah dihiasi, dan inilah orang yang berkata padaku : “Wahai Abu Ali, kami telah menghantarkanmu ke tahapan yang tinggi, walaupun engkau belum sampai ke sana.” Lalu Abu Ali membacakan syair :
Demi Hak-Mu, sungguh tak kupandang selain Diri-Mu.
Dengan mata cinta, sehingga aku melihat-Mu
Aku melihat-Mu, ketika hilang sejenak menjadi siksaan
Dan dengan pipi bertulip mawar merah petikan-Mu.
Salah satu Sufi berkata : “Aku melihat seorang fakir asing yang membiarkan dirinya, sementara lalat mengerumuni wajahnya. Lalu aku duduk mengibaskan lalt-lalat itu dari wajahnya, sampai kemudian matanya terbuka, dan berkata : “Siapakah engkau? Sejak sekian tahun aku mencari waktu yang menjernihkan diriku, dan selalu begitu, kecuali sekarang ini. Engkau datang, menceburkan dirimu di dalamnya. Pergilah, semoga Allah swt. mengampunimu.”
Saya mendengar Abu Hatim as-Sijistany berkata : “Aku mendengar Abu Nashr as-Sarraj berkata : “Penyebab wafatnya Abul Husain Ahmad an Nury adalah dikarenakan mendengarkan sebuah syair ini :
Aku senantiasa menempati
Lembah dari cinta-Mu
Ketika sematam, lubuk jiwa menjadi lingling.”
Ahmad an-Nury mengalami ekstase dan linglung di tengah padang pasir. Lalu jatuh di rimba belukar yang sudah ditebang, namun akar-akarnya masih menonjol, tajam seperti pedang. Anehnya, an-Nury berjalan di atas akar-akar itu, kembali pulang sampai esok hari. Darah mengalir dari kedua kakinya, kemudian ia tersungkur seperti orang yang mabuk. Kedua telapan kakinya membengkak, dan akhirnya meninggal dunia. Pada riwayat lain diceritakan, ketika beliau menjelang wafat, dikatakan padanya : “Ucapkanlah Laa Ilaaha Illallaah,” lalu beliau menjawab : Bukankah pada ucapan itu aku kembali.”
Saya juga mendengar Ab Manshur al-Maghriby berkata : “Yusuf ibnu Husain menjenguk Ibrahim al-Khawwas, setelah sekian lama Yusuf tak pernah mengunjunginya. Ketika melihat Ibrahim, Yusuf bertanya kepadanya : “Apakah engkau ingin sesuatu?” Ibrahim menjawab : “Benar, sepotong limpa panggang.”
Maksud ucapan Ibrahim tersebut, kemungkinan adalah : “Aku inginkan hati yang lembut terhadap si fakir, dan limpa panggang yang menghangatkan orang asing.”
Dikisahkan : “Sebab kematian Ahmad bin Atha’, yakni ketika ia memasuki rumah seorang menteri, lantas sang menteri bicara dengan ucapan kasar. Lalu Ibnu Atha’ berkata : “Tenanglah Anda ....!” Tiba-tiba sang menteri itu memukulnya dengan sepatu dan mengenai kepalanya, hingga wafat pun menjemputnya.”
Abu Bakr Muhammad ad-Duqqy berkata : “Kami sedang berada di tempat Abu Bakr az-Zaqqaq pada pagi hari, lalu az-Zaqqaq berkata, “Tuhanku, berapa lama lagi diriku Engkau tempatkan di sana?” Dan keesokan pagi, ia telah meninggal dunia.”
Diriwayatkan dari Abu Ali ar-Rudzbary, yang mengisahkan : “Aku melihat di padangpasir seorang pemuda. Ketika ia melihatku, ia berkata, “Adapun yang mencukupinya, pesonanya padaku dengan cintanya, hingga membuatku menderita.” Lalu aku melihatnya dalam keadan jiwa yang lembut, sembari kukatakan padanya : “Ucapkanlah Laa Ilaaha Illallaah.” Lanatas ia mendendangkan syair :
Wahai yang tiada bagiku jauh dari-Nya
Bila ia menyiksaku, memang itulah setimpalnya
Wahai yang meraih hatiku
Sepadan yang tiada batasnya.”
Dikatakan kepada al-Junayd : “Ucapkalah Laa Ilaaha Illallaah.” Lantas Junayd menjawab : “Aku tak pernah melupakannya, dan selalu mengingatnya.” Dia kemudian bersayir :
Yang selalu hadir dalam gairah di hatiku
Tak pernah kulupakan, maka selalu kuingat.
Dia-lah Tuanku dan Sandaranku
Bagianku dari-Nya lebih sempurna.
Ja’far bin Nashr bertanya pada Bakran ad-Dinawary – di mana dia sedang melayani asy-Syibly – “Apa yang Anda lihat dari Asy-Syibly?” Ia menjawab : “Asy-Syibly pernah berkata : “ “Aku punya dirham gelap, dan kau telah menyedekahkannya beberapa ribu. Dalam hatiku tak ada rasa mengganjal yang lebih besar dari dirham itu.” Lantas dia berkata : “Wudhukan aku untuk shalat.” Aku pun mewudhukannya. Ketika itu aku lupa menyela-nyela air pada jenggotnya, padahal aku menahankan air pada mulutnya, lantas beliau menahankan air itu pada tanganku dan kemudian menyelakan pada jenggotnya, lantas beliau wafat.” Mendengar kisha itu Ja’far menangis tersedu, dan berkata : “Apa yang kalian katakan itu, tentang seorang lelaki yang tak pernah melewatkan adab dari adab-adab syariat, hingga akhir hayatnya.”
Ali-al-Muzayyin berkata : “Saat sedang berada di Mekkah al-Mukarramah --- semoga Alalh swt. menjaganya --- Tiba-tiba aku merasa gelisah. Lantas aku ingin berangkat ke Madinah al Munawarah. Ketika aku sampai ke Bi’ru Maimun, tiba-tiba seorang pemuda terlempar. Aku mencoba menggugahnya, namun ia kelihatan naza’. Kukatakan padanya : “Ucapkalah Laa Ilaaha Illallaah!.” Lantas kedua matanya terbuka, dan kemudian menguntaikan syair :
Aku, bila mati, cintaku telah memenuhi hatiku
Sedang awal asmara telah mematikan kemuliaan.
Selanjutnya pemuda itu menjerit dengan sekali jeritan, lantas mati. Aku memandikan, mengafani dan menshalatinya. Ketika selesai memendamnya, aku tidak berhasrat untuk meneruskan perjalanan. Aku pun kembali ke Mekkah --- Semoga Allah swt. menjaganya.”
Dikatakan kepada salah seorang Sufi :”Apakah Anda mencintai maut?” Ia menjawab : “Datang kepada orang yang diharapkan kebaikannya itu llebih baik daripada menetap bersama orang yang tidak percaya keburukannya.”
Diriwayatkan dari al0Junayd, yang mengatakan : “Aku sedang berada di tempat guruku, Ibnu Karainy, ketika beliausudah merelakan ddirinya. Lalu kulihat langit, dan beliau berkata : “Jauh!” lalu kulihat bumi, beliau pun berkata : “Jauh!” Yakni, Dia itu lebih dekat dibandign Anda memandang ke langit maupun k bumi. Bahkan Dia ada sebelum langit dan bumi.”
Saya mendengar ssalah seorang sahabt kami berkata : “Abu Yazin berkata menjelang wafatnya : “Aku tak pernah ingat pada-Mu kecuali ketika lupa, dan Engkau tak pernah menggenggamku, kecuali saat jeda.”
Abu Ali Muhammad ar-Rudzbary berkata : “Aku memasuki negeri Mesir, dan kulihat orang-orang berkumul, seraya berkata : “Kita sedang berada dalam iringan jenazah seorang pemuda yang meninggal karena mendengar orang menguntaikan syair :
Betapa besar dosa hamba
Yang ambisi sekali melihat-Mu.
Lalu pemuda itu menjerit dengan sekali teriakan, lantas mati.”
Dikisahkan : “Sekelompok orang menjenguk Mumsyad ad-Dinawary yang sedang sakit. Mereka berkata padanya : “Apa yang dilakukan Allah swt. pada Anda?” Ad-Dinawary menjawab : “Sejak tigapuluh tahun ini aku ditawari surga dan seisinya, namun aku tak pernah menolehkan pandanganku.” Mereka bertanya di saat dia sedang naza’ : “Bagaimana Anda menemukan hati Anda?” Dia menjawab : “Sejak tigapuluh tahun, aku kehilangan hatiku.”
Sebab kematian Abul Husain bin Bannan, adalah ganjalan dalam hatinya yang menyebabkan kebingungan arahnya. Orang-orang menjumpainya tersesat di daerah kalangan Bani Israil, dalam keadaan tertimpa pasir. Kemudian ia membuka matanya dan berkata : “Bermewah-wewahlah, sebab inilah kemewahan para kekasih.” Lalu nyawanya keluar dari tubuhnya.
Abu Ya’qub Ishaq an-Nahrajury berkata : “Ketika aku sedang berada di Mekkah al Mukarramah – semoga Allah swt. menjaganya – tiba-tiba datang seorang fakir dengan membawa dinar. “Bila besok tiba, aku pun mati. Tolong butakan kuburanku dari separo dinar ini, separo lainnya untuk persiapanku.” Aku berkata dalam hati; anak muda ini tidak waras, dan dia sedang tertimpa kekuranagn. Ketika esok hari tiba, ia datang kembali, masuk ke masjid dan tawaf. Kemudian berlalu dan menjejak-jejakan kakinya pada tanah. “Itu dia, pura-pura mati.” Kaaku. Aku pun menghampirinya dan menggerakkannya. Ternyata ia benar-benar mati. Akhirnya sebagaimana pesannya, aku pun menguburkannya.”
Dikatakan : “Ketika keadaan Abu Utsman Sa’id al-Hiry mengalami perubahan, anaknya, Abu Bakr merobek gamis. Lalu Abi Utsman membuka matanya, berkata : “Hai anakku, menetang sunnah dalam bentuk lahiriah tergolong riya’dalam batin.”
Dikatakan : “Ketika Ahmad memasuki rumah al-Junayd, sedangkan Junayd telah rela untuk mati, Ahmad menucapkan salam. Namun jawabannya terlambat, walau akhirnya menjawab pula. Setelah itu al-Junayd berkata : “Maaf, aku sedang dalam wiridku.” Setelah itu al-Junayd meninggal.”
Diriwayatkan oleh Abu Ali ar-Rudzbary : “Ada seorang fakir datang pada kami, lalu mati. Aku pun menguburkannya, dan ketika wajahnya kubuka untuk kuletakkan di atas tanah, agar Alalh swt. mengasihi dalam pengasingannya, tiba-tiba kedua matanya terbuka, dan berucap : “Wahai Abu Ali, apakah engkau menghinakan diriku di sisi Dzat Yang memanjakanku?” Aku berkata : “Saudaraku, apakah ada kehidupan setelah mati?” Ia menjawab : “Bahkan aku ini hidup. Dan orang yang mencintai Allah swt. selalu hidup. Esok nanti tiada yang membahayakanmu, demi kebesaranku, wahai Rudzbary.”
Diriwayatkan dari Abul Hasan Ali al-Ashbahany, yang berkata : “Apakah kalian semua melihat diriku mati seperti orang-orang yang mati itu, ada sakit dan ada pula orang-orang yang menjenguk. Ketika aku dipanggil “Wahai Ali” aku pun menjawabnya.” Pada suatu hari Ali sedang berjalan, sembari menjawab panggilan orang : “Labbaik.” Kemudian ia mati.
Abul Hassan Ali al-Muzayyin berkata : “Ketika Abu Ya’qub Ishaq an-Nahrajury sakit menjelang wafatnya, di sat naza’nya aku mengatakan padanya : “Ucapkan : “Laa Illaha Illallaah>”, lalu beliau tesenyum padaku sembari berucap : “Yang kau maksud itu aku? Demi Keagungan Dat Yang tak pernah merasakan kematian, tak ada antara diriku dengan-Nya, kecuali hijab keagungan.” Lalu saat jadi padam (wafat).” Selanjutnya Ali al-Muzayyn memegangi jenggotnya dan berkata : “Pembekam seperti diriku ini, menuntun syahadat para wali Allah swt?” Al-Muzayyin merasa malu, dan ia selalu menangis bila ingat kisah ini.
Abul Husain al-Maliky berkata : “Aku berguru pada an-Nassaj beberpa tahun. Delapan hari menjelang kewafatannya; beliau berbicara padaku : “Hari Kamis tepat waktu maghrib aku akan mati. Aku akan dimakamkan hari Jum’at, sebelum Shalat Jum’at. Kamu jangan lupa itu!” Ternyata wasiat itu kkulupakan, hingga hari Jum’at. Tiba-tiba ada orang yang memberi kabar atas kewafatannya. Aku bergegas keluar menghadiri jenazahnya. Kulihat serombongan manusia sedang pulang, sambil berkata : “Beliau dimakamkan setelah shalat.” Namun aku tidak bergeming dan aku pun haidr. Kutemani jenazah, ternyata telah dikeluarkan sebelum waktu shalat sebagaimana diucapkannya padaku dulu. Aku bertanya pada hadirin yang hadir saat wafatnya. Salah seorang di antara mereka berkata : “Beliau pingsan, lalu sadar kembali. Kemudian menoleh ke arah rumah dan berkata, : “Berhenti, semoga Allah memaafkanmu. Kamu adalah hamba yang diperintah, dan aku pun hanya diperintah. Yang diperintahkan padamu, tidak membuat kesenjangan bagimu, sedangkan yang diperintahkan padaku, membuat senjang  diriku. Lantas beliau meminta air, untuk memperbarui wudhu, kemudian shalat. Setelah shalat, tubuhnya kejang dan matanya terpejam (wafat).” Maka, setelah beliau wafat, Abul Husain bermimpi bertemu dengan an-Nassaj : “Bagaimana keadaannya?” Tanya Abul Husain. “Jangan kamu lupakan, tetapi, sebenarnya kau telah membersihkan duniamu yang kotor.”
Pengarang kitab Bahjatul Asrar, menuturkan, bahwa ketika Sahl bin Abdullah meninggal, manusia berduyun-duyun mendatangi jenazahnya. Di daerah itu ada sekelompok Yahudi, sekitar tujuh puluh orang. Salah seorang Yahudi itu mendengar kegaduhan, lalu keluar untuk melihat apa yang terjadi. Ketika melihat jenazah, tiba-tiba ia berteriak : “Hai, apakah kalian semua melihat seperti apa yang kulihat?” Mereka menjawab : “Tidak!” Apa yang Anda lihat?” Yahudi itu berkata : “Aku melihat serombongan kaum yang turun dari langit, mereka saling menyentuh dan mengusap jenazah itu.” Setelah kejadian itu, Yahudi tersebut membaca syahadat, memeluk Islam, dan menjadi Muslim yang taat.
Abu Sa’id al-Kharraz berkata : “Aku sedang berada di Mekkah al-Mukarramah semoga Allah swt. menjaganya. Suatu hari aku melewati pintu Bani Syaibah. Kulihat seorang pemuda yang tampan dalam keadaan meninggal dunia. Kulihat wajahnya, dia tersenyum dalam wajahku, dan berkata padaku, : “hai Abu Sa’id, ketahuilah bahwa sesungguhnya para kekasih Allah itu hidup, walaupun mereka mati. Mereka hanya dipindahkan dari satu rumah ke rumah lain.”
Ahmad al-Jurairy berkata : “Ada berita sampai padaku bahwa Dzun Nuun al-Mishry, ketika sedang naza’ diminta untuk berwasiat. Beliau malah menjawab : “Jangan ganggu aku. Aku ini sedang terpesona oleh keindahan-keindahan kelembutan-Nya.”
Abu Utsman al- Hiry berkata : “Abu Hafs ditanya mengenai situasi wafatnya, ‘Apa yang bisa engkau nasihatkan pada kami, mengenai kematian?” Beliau menjawab : “Aku tak mampu untuk menjelaskan.” Kemudian tapak bahwa dirinya terasa kuat untuk menerangkan, dan aku pun bertanya padanya : “Katakanlah, sehingga aku bisa mengisahkan ini darimu.” Beliau menjawab : “Patah semangat telah meletihkan hati dari sikap ceroboh.”