Showing posts with label Manaqib Syeih Abdul Qodir aljiilany ra. Show all posts
Showing posts with label Manaqib Syeih Abdul Qodir aljiilany ra. Show all posts

Wednesday, November 27, 2013

no image

Hijrah Dari Ke-AKU-an (Pengajian Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany)

Hijrah Dari Ke-AKU-an
 
Pengajian Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany
 10 Ramadhan, tahun 545 H. di Madrasahnya

Orang beriman adalah orang yang hijrah dari dirinya, belajar kepada seorang guru yang mendidik dan mengajarinya mulai dari kecil hingga mati. Sang qari’ adalah orang yang menghafal Al-Qur’an, dan pada pertengahannya ia mengenal pengetahuan tentang tradisi atau Sunnah Rasulullah Saw, maka saat itulah ia pasti dapat pertolongan. Ia mengamalkan ilmunya dan kokoh dengan amaliahnya hanya bagi Allah Azza wa-Jalla. Setiap ia mengamalkan ilmunya, Allah Azza wa-Jalla mewariskan pengetahuan yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya.
Jangan hanya duduk-duduk di atas tempat tidurmu, dengan selimutmu, dan dibalik pintumu yang tertutup, lalu anda mencari amal dan yang anda amalkan? Perhatikan hatimu dengan dzikir, dan mengingatNya di hari ketika dibangkitkan. Tafakkurlah untuk merenungi pelajaran di balik alam kubur. Renungkanlah bagaimana Allah Azza wa-Jalla menggelar semua makhlukNya dan membangkitkan mereka di hadapanNya.
Hatinya teguh pada pijakannya, keikhlasannya mendekatkan langkahnya menuju Allah Azza wa-Jalla. Bila anda mengamalkan ilmu itu, sementara anda tidak melihat hatimu mendekat kepada Allah Azza wa-Jalla, anda pun tidak merasakan indahnya ibadah, kebahagiaan dibalik ibadah, ketahuilah bahwa anda sebenarnya belum beramal ibadah. Anda terhalang karena adanya celah dibalik amal anda. Apakah celah itu? Adalah riya’, kemunafikan dan takjub pada diri sendiri.
Wahai orang yang beramal, ikhlaslah. Jika tidak, anda jangan bersusah payah. Hendaknya anda melakukan muroqobah pada Allah Azza wa-Jalla baik dalam sunyi maupun ramai. Muroqobah dalam keramaian saja itu bagi orang munafik. Namun bagi orang yang ikhlas, muroqobah baik dalam sunyi maupun ramai sama saja.
Hati-hati, jika anda melihat orang yang bersolek, lelaki maupun wanita, maka pejamkan matamu, pejamkan mata nafsumu, watak dirimu, ingatlah pandangan Allah Azza wa-Jalla kepadamu, dan bacalah: ”Kamu tidak berada dalam suatu keadaan...” (QS Yunus: 61)
Waspadalah pada Allah azza wa-Jalla, dan pejamkan matamu untuk memandang hal yang diharamnkan, ingatlah pada Dzat Yang transparan pandanganNya dan pengetahuanNya. Bila anda tidak mewaspadai pandanganNya Azza wa-Jalla dan tidak kontra padaNya, maka sempurnalah ubudiyahmu padaNya, dan kelak anda tergolong hamba yang benar, masuk dalam kelompok yang difirmankanNya:
”Sesungguhnya hamba-hambaKu, tak ada bagimu (Iblis) kemampuan menguasai mereka.” (QS Al-Hijr: 42)
Bila syukurmu benar hanya bagi Allah Azza wa-Jalla, maka Dia mengilhami hati para makhluk dan lisannya untuk terimakasih padamu, cinta padamu. Maka disinilah syetan dan pasukannya tidak punya jalan masuk padamu. Hendaknya  anda meninggalkan doa sebagai prinsip, kalau toh sibuk berdoa itu hanyalah toleransi saja untukmu. Doa itu bagi orang yang sedang tenggelam dan yang terpenjara, tertahan, sampai ia dapat jalan keluar dan masuk ke hadapan raja.
Jadilah dirimu orang yang berakal sehat, apa yang baik bagimu dan apa yang tidak baik, ketika anda meninggalkan doa. Tak satu pun kecuali butuh niat yang benar, akal yang sehat dan  mengikuti jejak yang mengerti.
Kalian tidak menggunakan akal sehat apa yang ada disisi Allah Azza wa-Jalla dan apa yang ada di sisi hambaNya yang shaleh. Itulah yang menyebabkan kalian su’udzon (buruk sangka) pada mereka. Jangan sampai anda khawatir terhadap pangkal agamamu dan kondisimu  bersama  mereka. Jangan sampai kalian menentang aktivitas mereka sepanjang tidak bertentangan dengan syariat, jangan kontra dengan mereka karena mereka ada di hadapanNya Azza wa-Jalla, lahir dan batin.
Di hatinya tidak pernah tenang dari rasa takut hingga ketenangan dan jaminan keselamatan ada padanya.
Kemarilah wahai hamba Allah Azza wa-Jalla di muka bumi, kemarilah wahai kaum zuhud, belajarlah, anda akan mengerti pengetahuan yang baik dariNya. Masuklah dalam kitabku sampai aku memberi pelajaran padamu yang tidak pernah kalian dapatkan.
Hati kita punya kitab, dan rahasia batin juga ada kitabnya. Nafsu juga ada kitabnya, anggota badan juga ada kitabnya. Semua ada derajat-derajat, maqom-maqom, pijakan-pijakan yang beragam.

Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany.
 Gembira Kepada Allah (PENGAJIAN SYEIH ABDUL QODIR ALJAILANY RA )

Gembira Kepada Allah (PENGAJIAN SYEIH ABDUL QODIR ALJAILANY RA )

Gembira Kepada Allah
 
Pengajian Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany,
 10 Ramadhan,tahun 545 H.di Madrasahnya

Hai orang yang munafiq pada Allah Azza wa-Jalla... Ingatlah bahwa
Dia yang menampakkan pada hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, Yang Memanggil mereka, Yang Memadukan semua hati  makhlukNya yang dikehendakiNya, Dialah yang menundukkan. Lalu anda menginginkan –dengan kemunafikan anda– agar hati para makhluk bergabung denganmu. Sungguh ini tidak bakal terjadi.

Anak-anak sekalian.... Tinggalkan kesenangan syahwatmu di bawah telapak kakimu, berpalinglah dari bersenang-senang secara total. Bila ada sedikit kesenangan dalam diri anda sesuai dengan ketentuan Allah Azza wa-Jalla yang sudah ada, pasti akan tiba pada waktunya. Sebab ketentuan yang sudah ada tidak dibenarkan untuk ditepiskan. Pengetahuan Allah Azza wa-Jalla tentang hal yang ditetapkan tidak akan pernah berubah dan diganti.
Bagianmu bakal tiba kepadamu dengan sempurna, mencukupi dan penuh kebaikan, yang diberikan dengan Tangan Kemuliaan, bukan dengan Tangan Kehinaan, dengan demikian secara langsung anda malah meraih pahala zuhud di sisi Allah azza wa-Jalla. Dia pun memandangmu dengan Mata Kemuliaan sebab anda tidak meraihnya dengan sifat ambisius dan rakus.
Sebagaimana anda lari dari bagian milikmu, justru milik itu akan terus bergantung dan mengikutimu. Maka zuhud tidak dibenarkan disini, namun anda harus berpaling dari bagian milikmu itu, sebelum waktunya tiba. Anda pun akan tahu dariku makna zuhud dan berupaya yang sebenarnya.
Janganlah anda duduk diam di tempat zawiyah anda dengan kebodohan anda. Pahami dan belajarlah, baru anda ’uzlah. Belajarlah pada hukum-hukum Allah Azza wa-Jalla dan amalkan, baru anda ’uzlah dari semuanya, kecuali anda bergabung dengan para tokoh Ulama billah Azza wa-Jalla, maka bergabungmu dengan mereka, menedgarkan ajaran mereka,  lebih utama dibanding ’uzlahmu.
Bila anda bertemu salah satu dari mereka, maka bergabunglah dan belajarlah memahami ilmunya Allah Azza wa-Jalla dan mengenalNya. Belajarlah dan simaklah dari lisan-lisan mereka. Ilmu itu diraih dari lisan para tokoh Ulama billah Azza wa-Jalla yang mengenal hukum-hukum Allah Azza wa-Jalla dan ilmuNya. Bila sudah benar seperti itu, silakan anda ’uzlah sendiri tanpa nafsu, tanpa syetan, tanpa kecenderungan watak dan kebiasaan buruk dan pandangan makhluk.
Bila benar ’uzlah anda seperti itu, para malaikat dan ruh-ruh sholihin serta hasrat mereka melingkupimu. Jika ’uzlah anda tidak seperti itu, maka ’uzlah anda hanyalah kemunafikan dan menghabiskan waktu dengan sia-sia belaka, malah anda terjebur di neraka dunia dan akhirat. Di dunia terjebur di neraka bencana dan di akhirat masuk nerakanya orang-orang munafik dan kafir.
Ya Allah, maafkan kami, ampuni kami, tutupi dosa kami, hapuslah dosa kami, terimalah taubat kami. Jangan Engkau buka tirai cacat kami, jangan Engkau siksa kami karena dosa-dosa kami, Ya Allah Ya Kariim.   ”Dialah yang Menerima taubat hamba-hambaNya, dan memaafkan keburukan-keburukan mereka.”  (Asy-Syuura, 25). Terimalah taubat kami, dan maafkanlah kami.
Awas! Anda mengaku berilmu, dan anda bersukaria seperti sukarianya orang-orang bodoh, anda pun marah seperti mereka. Anda gembira bersukaria dengan dunia, dan orang-orang datang kepadamu, membuatmu lupa dengan hikmah dan menjadikan hatimu jadi keras.
Orang beriman itu tidak gembira kecuali hanya gembira kepada Allah azza wa-Jalla bukan pada lainnya. Kalau saja ada kegembiraan dan harus gembira, maka gembiralah dengan cara menyerahkan hartamu untuk kepatuhan kepada Allah Azza wa-Jalla, yang memberi manfaat untuk bakti kepada Allah Azza wa-Jalla, dan menolong ummat untuk taat kepadaNya. Tetaplah takut kepada Allah Azza wa-Jalla di malah hari dan siangmu, hingga anda mendengar suara dalam hatimu dan rahasia hatimu:
”Janganlah kalian berdua takut,  sesungguhnya Aku bersama kalian berdua, Aku mendengar dan Melihat.” (Q.S. Thaha: 46).
Seperti dikatakan kepada Nabi Musa as, dan Nabi Harus as. Namun anda bukan seperti mereka, karena anda punya ilmu tanpa amal, dan apalagi anda juga bukan pewaris para Nabi. Sang pewaris baru benar dengan ilmu, amal dan keikhlasan. Kenali kadar kemampuanmu, jangan berambisi pada hal-hal yang bukan bagianmu.  Berserasilah pada bagian-bagian yang ditentukan oleh Allah Azza wa-Jalla, apalagi Dia memberi pertolongan dan kasih sayang padamu dan mengambil beban-bebanmu yang berat, mengasihimu dunia dan akhirat.
Orang beriman, apabila telah kuat imannya ia disebut orang yang yakin (muuqin). Apabila yakinnya kuat, ia disebut sebagai orang yang ’arif. Apabila kema’rifatannya kuat ia disebut ’alim. Apabila ilmunya kuat ia disebut pecinta (muhibb). Jika cintanya kuat, ia disebut sebagai sang kekasih (mahbub).
Jika semua itu benar padanya ia disebut sebagai orang yang cukup, orang yang dekat dan orang yang bahagia dengan kedekatannya kepada Allah Azza wa-Jalla. Ia diperlihatkan rahasia hikmah, ilmu, kehendakNya yang dulu maupun yang akan datang, perintah dan takdirNya.
Itu semua menurut kadar kesuksesannya dan menurut apa yang dianugerahkan dalam kekuatan  dan keleluasaan hatinya. Lalu ia teguh dengan Tuhannya Allah Azza wa-Jalla, makhluk telah keluar dari hatinya.
Bila datang pengetahuan tentang ketentuan dari Tuhannya Allah Azza wa-Jalla, dan ada anugerah sandang papan dan pangan, keluarga, maka ia tidak menemukan sebab-sebab kedatangannya, kecuali ia hanya melihat pada Allah Azza wa-Jalla sebagai Sang Pemberi karena ia telah fana’ padaNya, agar pengetahuannya padaNya tidak gugur  dan hangus, lalu membuatnya berperilaku lain. Juga apa yang telah dibangunnya selama ini tidak runtuh dari bangunan kehendak Ilahi.
Ia tetap menelan makanan seperti seorang bayi yang sedang disuapi, seperti seorang ibu sedang menyusui di mulut bayinya. Bagian-bagian anugerah itu sampai di mulutnya dan tetap memakannya, seperti raihan air minum yang hendak diminum orang yang sakit, menjaga makanan yang diberikan padanya tanpa harus memilih selera. Namun kehendak Ilahi yang sudah ditentukan justru yang melindungi sang mukmin,  yang yakin, yang arif yang fana’, meraih dari tarikan kemashlahatan dirinya dan menolak bahaya yang mengancamnya. Karena Tangan Rahmatlah yang membolak balik arah kanan dan kiri, namun kasih sayang itu yang meliputinya.
Hai orang yang tidak beruntung, siapa yang tidak mengenal Allah Azza wa-Jalla dan tidak bergantung dengan asupan rahmatNya...Hai orang yang merugi...andalah orang yang tidak melakukan amaliyah dan hati anda putus denganNya, batinnya tidak bergantung padaNya, tidak berkait dengan kasih sayang dan anugerahNya.
Wahai kaum sufi... Allah Azza wa-Jalla melimpahkan perlindungan dan pendidikan kepada shiddiqin sejak mereka masih kecil hingga tuanya, manakala mereka ditimpa cobaan dan Allah Azza wa-Jalla melihat kesabaran mereka, justru mereka semakin dekat padaNya.
Justru bencana tidak mendekati dan menyentuh mereka. Bagaimana bisa? Ketika bencana tiba, hati mereka justru berada di sayap burung ruhaniyah. Sungguh nista orang yang menyakiti hati mereka, sungguh Allah Azza wa-Jalla marah, sungguh anda tertutup dari Allah Azza wa-Jalla, anda dapatkan amarah Allah Azza wa-Jalla.
Anak-anak sekalian... Jadilah generasi kaum sufi dan ridholah pada mereka, berbaktilah di hadapan mereka. Jika anda bisa begitu, justru anda bisa jadi tuan. Siapa yang tawadhu pada Allah Azza wa-Jalla dan pada hambaNya yang sholeh,  Allah Azza wa-Jalla mengangkat derajatnya dunia akhirat. Bila anda menanggung beban suatu bangsa dan menjadi pelayan mereka, Allah Azza wa-Jalla mengangkat anda sebagai pemukanya. Sungguh bagaimana seandainya yang anda layani adalah kaum khowas (kalangan khusus, para sufi) dari bangsa itu?
Ya Allah berikanlah pahala kebajikan di tangan kami dan lisan kami, jadikan kami tergolong orang yang meraih kasih sayang kelembutanMu dan pertolonganMu. Amin.

Wednesday, July 3, 2013

no image

Dua Langkah Saja ! Anda Sampai(PENGAJIAN SYEIH ABDUL QODIR ALJAILANY RA )


Dua Langkah Saja ! Anda Sampai

Syekh Abdul Qodir Jailani
10 Ramadhan, tahun 545 H. di Madrasahnya
“Hai orang yang mendustai agama! Anda bermain-main dan merusak? Tidak! Tidak ada kemuliaan bagi dirimu hai para perusak, anda telah membiarkan nafsumu untuk bicara pada manusia tanpa keahlian dalam dirimu”

DUA langkah, anda telah sampai (wushul). Satu langkah meninggalkan dunia dan satu langkah meninggal kan akhirat. Satu langkah meninggalkan nafsumu dan satu langkah meninggalkan makhluk. Tinggalkan nuansa lahiriyah, anda akan sampai di wilayah bathiniyah. Permulaan, kemudian akhir. Kokohkan dirimu dan sempurnakan di hadapan Allah Azza wa-Jalla. Darimulah permulaan, dari Allahlah akhir tujuan. Raihlah kepahitan dan kepayahan, duduklah pada pintu amal hingga apa yang anda cari sangat dekat dengan yang diamalkan.
Jangan hanya duduk-duduk di atas tempat tidurmu, dengan selimutmu, dan dibalik pintumu yang tertutup, lalu anda mencari amal dan yang anda amalkan? Perhatikan hatimu dengan dzikir, dan mengingatNya di hari ketika dibangkitkan. Tafakkurlah untuk merenungi pelajaran di balik alam kubur. Renungkanlah bagaimana Allah azza wa-Jalla menggelar semua makhlukNya dan membangkitkan mereka di hadapanNya.
Bila anda terus merenungi itu, akan sirna kekerasan hatimu, bersih dari kotorannya. Bila sebuah bangunan ditegakkan di atas  fondasi, akan kokoh dan kuat. Bila tidak ada fondasinya akan cepat runtuhnya. Bila anda teguh di atas aturan hukum yang pasti dan jelas, tak satu pun makhluk akan menggerogotinya. Namun jika tidak ditegakkan di atas fondasi itu, kondisinya akan tidak kokoh, dan anda tidak akan meraih maqom ruhani, hingga qalbu para auliya’ shiddiqun marah pada anda, dan  tidak ingin memandang anda.
Hai orang yang mendustai agama! Anda bermain-main dan merusak? Tidak! Tidak ada kemuliaan bagi dirimu hai para perusak, anda telah membiarkan nafsumu untuk bicara pada manusia tanpa keahlian dalam dirimu. Padahal bicara itu hanya diperkenankan pada beberapa individu makhluk kaum sholihin, jika tidak mereka hanya membisu, hanya berisyarat, bukan bicara.
Diantara mereka ada yang diperintahkan untuk bicara pada sesama makhluk dengan tegas, dan setelah bicara, informasi menjadi jelas dan terang pada hatimu dan menjernihkan batinmu.
Itulah sebabnya Amirul Mu’minin Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah ra,  mengatakan, ”Jika saja tirai dibuka, rasa yakinku pun tidak akan bertambah.” Bahkan beliau juga berucap,
”Aku tidak akan menyembah Tuhan yang tidak aku lihat.”
”Hatiku memperlihatkan padaku akan Tuhanku.”
Wahai orang-orang yang bodoh, bergaullah dengan para Ulama’, berbaktilah pada mereka danbelajarlah dari mereka. Karena ilmu itu diraih dari lisan para tokoh Ulama. Karena itu bermajlislah dengan mereka dengan adab yang bagus, tidak kontra dengan pandangannya, meraih manfaat dari mereka, agar kalian meraih ilmu pengetahuan, meraih barokah dan sariguna dapat kalian cerap.
Bermajlislah dengan para ’arifin dengan diam.  Bermajlislah dengan ahli zuhud dengan penuh cinta. Para ‘arif setiap saat lebih dekat dengan Allah Azza wa-Jalla, dibanding saat-saat sebelumnya, dengan terus menerus memperbaharui khusyu’nya  dan rasa hinanya di hadapan Tuhannya Azza wa-Jalla. Ia khusyu’ dengan penuh hadirnya qalbu bukan dengan ghaibnya qalbu di hadapanNya.
Tambahnya khusyu’ menurut kadar kedekatannya dengan Allah Azza wa-Jalla. Dan semakin kuat membisunya ketika musyahadah kepadaNya Azza wa-Jalla, karena siapa yang ma’rifat kepadaNya, lisan, watak, nafsu, hawa nafsu dan kebiasaannya serta wujudnya terbungkam. Sedangkan lisan qalbunya, rahasia batinnya, kondisi ruhani dan maqomnya serta anugerah yang diterimanya, senantiasa bicara karena nikmat-nikmat yang melimpah dariNya.
Karena itu mereka bermajlis dengan diam, agar meraih manfaat dari para ‘arifun, dan meraih minuman jiwa yang memancar dari hati para ‘arifun. Siapa yang banyak bermajlis dengan para ‘arifin billah, dirinya akan hina dina di hadapan Tuhannya Azza wa-Jalla. Lalu dikatakan, ”Siapa yang mengenal dirinya ia mengenal Tuhannya.” Karena diri adalah hijab antara dirinya dengan Tuhannya.
Siapa yang mengenal dirinya akan rendah hati di hadapan Allah Azza wa-Jalla di hadapan makhlukNya. Bila ia mengenal dirinya ia akan terus waspada, dan sibuk  dengan syukur kepada Allah Azza wa-Jalla atas pengenal terhadap dirinya itu. Dan ia pun tahu bahwa tidak akan mengenal dirinya kecuali Allah Azza wa-Jalla hendak memberikan kebaikan dunia akhirat.
Lahiriyahnya bersyukur kepada Allah Azza wa-Jalla, batinnya selalu memujiNya. Lahiriyahnya berpisah denganNya, batinnya berpadu denganNya. Kegembiraannya ada pada batinnya, sedangkan kesedihannya hanya pada lahiriyahnya belaka, demi menutupi kegembiraan kondisi ruhaninya.
Orang yang ‘arif Billah berbeda dengan umumnya orang beriman. Susah yang dalam hatinya, wajahnya berseri. Ia tahu, dan terus berada di hadapan pintuNya, namun tidak tahu apakah ia diterima atau ditolak. Apakah pintu akan dibuka baginya atau ditutup selamanya.
Orang yang mengenal dirinya akan berbeda pula dengan orang beriman biasa dalam berbagai situasi.  Orang beriman biasa adalah sang pemilik kondisi yang terus berubah, sedangkan sang arif adalah pemangku maqom yang tetap kokoh. Orang beriman umumnya, sangat takut jika kondisi ruhaninya berubah dan imannya hilang. Gelisahnya akan terus ada selamanya. Kegembiraannya terus memancar di wajahnya disertai rasa gelisahnya. Bicaranya riang gembira di hadapanmu, hatinya terasa putus oleh kegelisahannya.
Sedangkan sang arif kegelisahannya ada di wajahnya, karena ia harus bertemu dengan sesama untuk memberi peringatan, memberikan ketegasan dan perintah, melarang yang dilarang, sebagai pengganti Rasul Saw. Kaum Sufi itu mengamalkan apa yang didengar, lalu amalnya mendekatkan kepada Allah Azza wa-Jalla, beramal hanya bagi Allah Azza wa-Jalla yang mereka dengar dari nasehatNya secara langsung tanpa perantara melalui hati mereka. Itupun ketika mereka sedang tidak lelap dan tidur menurut makhluk, namun senantiasa terjaga dengan Sang Khaliq.
Bila hatimu benar, engkau  selamanya sirna dari makhluk, dan tidur dari pandangan mereka, namun terus hadir dan terjaga dengan Sang Khaliq. Hendaknya anda dal;am keramaian senantiasa sunyi denganNya, sehingga limpahan anugerah Allah Azza wa-Jalla terus mengalir, hikmahnya terus melimpah. Hendaknya anda menjaga rahasia batin, karena rahasia batin akan mendekte hatimu, lalu hatimu mendekte nafsu yang muthmainnah, dan nafsu itu tadi mendekte lisan. Lisan mendekte sesama makhluk.
Siapa yang berbicara pada publik, hendaknya  dengan kondisi seperti itu. Jika tidak, janganlah bicara. Kegilaan kaum sufi adalah meninggalkan watak kebiasaan manusiawinya, dan tindakan-tindakan hawa nafsunya, memejamkan diri dari kesenangan-kesenangan dan kenikmatan. Mereka bukan gila seperti umumnya orang gila yang tidak waras akalnya.
Hasan al-Bashry ra, mengatakan, ”Bila kalian melihat mereka, kalian pasti berkata, ”Hai orang-orang gila!”. Namun bila mereka melihatmu, mereka balik mengatakan, ”Orang-orang ini tidak pada beriman kepada Allah Azza wa-Jalla sekejap pun.”
Khalwatmu tidak benar, karena khalwat adalah gambaran dari pengosongan qalbu dari segalanya. Batinmu kosong, sendiri tanpa dunia, tanpa akhirat dan tanpa apa pun selain Allah azza wa-Jalla secara total.
Itulah keseriusan para pendahulu seperti para Nabi dan Rasul, para Auliya’ dan kaum sholihin. Amar ma’ruf nahi mungkar lebih aku sukai ketimbang seribu ahli ibadah yang berdiam di kamar sunyinya, namun masih melihat nafsunya.
Karena itu pejamkan nafsu, tekan dan lem, sampai pandangannya tidak menjadi penyebab kehancurannya, kecuali ia sabar mengikuti perintah hatinya dan rahasia batinnya. Diantara bagian dari mengikuti jejak batin dan hatinya, adalah tidak keluar dari konsisten hati dan batin, sehingga dirinya benar-benar menyatu dengan hatinya, sampai perintah keduanya (hati dan sirr), menghindari larangan keduanya, dan pilihannya.
Disinilah anda baru meraih nafsu yang muthmainnah, lalu berserasi untuk satu tujuan dan satu pencarian. Bila nafsu sampai disitu, maka meraih kemudahan dalam memerangi nafsunya.
Karena itu jangan membantah Allah Azza wa-Jalla atas apa pun yang ditakdirkan padamu, dan apa yang ditakdirkan pada orang lain. Lihatlah firman Allah azza wa-Jalla:
”Allah tidak ditanya apa yang Dia lakukan, tetapi merekalah yang ditanya (dimintai pertanggungjawaban) apa yang dilakukan.” (Al-Anbiya’: 23)
Mana bukti anda mengikuti perintah Allah azza wa-Jalla, bila adabmu tidak baik? Bisa-bisa anda keluar dari dunia ini dalam keadaan hina. Perbaikilah adabmu dan berselaraslah dengan adab itu, maka anda akan duduk mulia.
Sang pecinta Allah Azza wa-Jalla adalah tamunya Allah azza wa-Jalla. Si tamu tidak punya pilihan terhadap sang pemilik rumah dalam hal makanan dan minuman, serta pakaian, dan seluruh tingkah lakunya. Sebagai tamu haruslah bersesuai dengan pemilik rumah, sabar dan ridho. Tidak mengapa jika harus dikatakan, ”Bergembiralah atas apa yang kau lihat dan engkau temui.” Siapa yang mengenal mengenal Allah Azza wa-Jalla, dunia dan akhirat sirna, dan apa pun selain Allah Azza wa-Jalla sirna dari hatinya.
Sudah seharusnya ucapanmu hanya bagi Allah azza wa-Jalla, jika tidak bisu lebih baik bagimu. Hendaknya hidupmu untuk patuh kepada Allah Azza wa-Jalla. Jika tidak? Lebih baik kamu mati saja.
Ya Allah hidupkanlah kami dalam kepatuhan padaMu dan hamparkan kami bersama hamba-hambaMu yang taat. Amiin.(bersambung....)